Di dalam motorhome dengan furnitur serba kompak,ringan dan multifungsi.Untuk saat ini belum tersedia toilet dan pantry di dalam unit motorhome.(Foto:YD)

Di dalam motorhome dengan furnitur serba kompak,ringan dan multifungsi.Untuk saat ini belum tersedia toilet dan pantry di dalam unit motorhome.(Foto:YD)

Setahun terakhir ini di Pulau Belitung telah beroperasi Majesty Motorhome, kendaraan rekreasi (recreation vehicle) yang berfungsi sebagai alat transportasi sekaligus akomodasi. Kendaraan atau katakanlah, mobil rekreasi pertama di Indonesia. Penasaran? Dan, tertarikkah Anda jika ketika traveling dapat check-in dan check-out mengikuti jadwal penerbangan dan bisa membawa akomodasi ke manapun obyek wisata yang ingin dikunjungi?  Yah, sejenis mobil caravan-lah.

Majesty motorhome mencolok di tempat parkir Bandara H.A.S Hanandjuddin.(Foto:YD)

Majesty motorhome mencolok di tempat parkir Bandara H.A.S Hanandjuddin.(Foto:YD)

Pesawat yang saya tumpangi tidak terlambat mendarat di Bandara H.A.S Hanandjudin di Tanjung Pandan, Belitung. Terminal kedatangannya kini lebih baik daripada terakhir kali mendarat di bandara ini dua tahun lalu. Sekarang sudah ada ban berjalan untuk bagasi dan sekitar 30 menit semua bagasi penumpang selesai.

Pengemudi dan guide dari Majesty Motorhome sudah menunggu di depan pintu Terminal Kedatangan. Mereka menyapa dan menyambut ramah. Motorhome bercat putih dengan gambar layang-layang tampak mencolok di tempat parkir bandara. Driver membantu memasukkan barang bawaan ke dalam motorhome. Semua tertata rapi layaknya di kamar hotel. Dan saya langsung check-in  kendati belum pukul 14.00

Sebelum berangkat memulai penjelajahan pada hari pertama, kami makan siang dulu. Karena pagi yang cerah tiba-tiba langsung berubah hujan lebat menjelang siang, sambil menunggu reda kami lanjutkan dengan minum kopi dan teh susu khas melayu. Setelah hujan menyisakan rinai gerimis, motorhome melaju menuju danau kaolin.

Yang dimaksud dengan danau kaolin adalah lubang-lubang berisi air, terbentuk dari galian tambang tanah kaolin. Penambangan kaolin masih beroperasi. Perusahaan yang mengoperasikan penambangan telah membuat pagar pembatas dari kayu di tepi danau agar tidak ada pengunjung turun ke bawah. Selain itu telah dipasangi peringatan-peringatan di sekitar lokasi. Menurut satu biro perjalanan wisata di Belitung, semakin banyak wisatawan domestik mengunjungi danau kaolin. Kunjungan ke sana jadi program paling diminati setelah pantai-pantai di Tanjung Tinggi dan island hopping dari Tanjung Kelayang.

Motorhome parkir di danau kaolin.(Foto:YD)

Motorhome parkir di danau kaolin.(Foto:YD)

Asal-muasalnya, komunitas pecinta fotografi mencari obyek-obyek baru untuk difoto. Belitungisland.com, biro perjalanan wisata lokal pertama di Belitung pada awalnya mengorganisasi perjalanan-perjalanan komunitas fotografi. Danau kaolin ditawarkan sebagai salah satu obyek baru kepada mereka. Foto-fotonya tak bisa dibendung untuk tidak beredar di dunia maya. Dengan semakin banyak wisatawan ke Belitung dan sebagian dari mereka mungkin pernah melihat foto-foto tersebut maka permintaan ke danau kaolin terus bertambah. Tetapi biro perjalanan itu tak serta-merta langsung membuat program mengunjungi danau. Setelah mendapatkan izin dan beraudiensi dengan beberapa pihak, belitungisland.com baru mau mengeluarkan program mengunjungi danau kaolin. Memang danau kaolin ini sangat menggoda. Warna tanahnya putih bak pasir di pantai dan air di dalam kolam-kolamnya berwarna biru toska. Masih sulit mencari tandingannya di tempat lain di negeri ini.

Dari sana kami melanjutkan perjalanan. Tujuannya ke pantai Burung Mandi sekitar 30 menit dari Manggar, ibu kota Kabupaten Belitung Timur. Selama perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam itu, saya pakai untuk rehat sejenak. Kondisi jalan di lintas tengah Belitung yang menghubungkan Tanjung Pandan dan Manggar semakin lebar dan mulus. Motorhome berkecepatan rata-rata 60-70 km/jam tidak mengganggu kenyamanan beraktivitas di dalam kendaraan. Lalu lintas tidak ramai sehingga panorama di luar jendela bisa dinikmati sepuasnya sambil mengudap, mengobrol, atau bermain game di gawai.

Melihat kegiatan masyarakat lokal di pantai Burung Mandi.(Foto:YD)

Melihat kegiatan masyarakat lokal di pantai Burung Mandi.(Foto:YD)

Setiba di pantai Burung Mandi hari telah sore. Sesekali hujan rintik masih turun. Dari jauh kater-kater mendekat. Sesama nelayan saling membantu merapatkan perahu kayu tradisional Belitung itu merapat ke pantai berpasir kuning kecoklatan. Para istri nelayan juga turut mendekat lalu membantu suami-suami mereka menurunkan peralatan yang dibawa selama melaut. Beberapa ibu rumah tangga mendekati kater. Mereka memilih ikan-ikan kerisi dalam kotak pendingin. Tampak juga beberapa ikan tenggiri segar sepanjang sekitar 50 sentimeter di dalam kotak. Tak banyak anak-anak bermain di pantai sore itu.

Menurut Ibu Misna, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Burung Mandi sekarang menjual paket naik kater keliling pulau di sekitar pantai dan paket memancing ala nelayan setempat dengan kater. Paket keliling pulau selama 1-2 jam seharga sekitar Rp 75 ribu per orang. Sedangkan paket memancing selama 3-4 jam harganya sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per orang. Ada 10 nelayan lokal yang sudah bergabung.

Perahu kater belitung seperti sampan besar dengan cadik di kiri-kanannya. Sekarang layar digunakan sebagai persiapan tatkala mesin motor tempel mati dan dayung untuk mengarahkan kater sampai di bibir perairan terbuka sebelum mesin dinyalakan. Panjang kater rata-rata 6-7,5 meter dengan lebar sekitar 1 meter saja. Perahu dari kayu pohon kemang atau kweni itu bisa memuat sampai dengan 3 orang. Nelayan setempat mengatakan, waktu berlayar paling baik keliling pulau mulai dari pukul tujuh pagi ketika laut sedang tenang sampai sekitar pukul 12.00.

Dari sana, singgah dulu di Kelenteng Dewi Kwan Im tak jauh dari pantai Burung Mandi. Berada di puncak bukit, kelenteng ini langsung menghadap ke laut. Wisatawan masih ramai mengunjungi kelenteng sampai sore hari.

Motorhome park atau camping ground di Manggar,Belitung Timur.(Foto:YD)

Motorhome park atau camping ground di Manggar,Belitung Timur.(Foto:YD)

Hari mulai berganti malam ketika motorhome diparkir di motorhomepark atau camping ground di Manggar. Setiap motorhome menempati satu kavling yang dilengkapi dengan toilet dan kamar mandi serta sumber listrik. Di motorhomepark, jarak antara satu kavling dengan kavling lainnya cukup memberi ruang privasi di antara tamu-tamu motorhome. Jikalau saya mau berbeque pengelola motorhome telah menyediakan tempatnya di camping ground. Tetapi kali ini saya lebih memilih merasakan minum kopi di Manggar.

Warung kopi di Manggar paling ramai dikunjungi pada malam Kamis dan malam Minggu. Ketika zaman perusahaan timah Belanda beroperasi di Belitung, perusahaan membayar upah pekerja dua kali dalam seminggu, hari Rabu dan Sabtu. Maka pada hari-hari itulah para pekerja dapat menikmati hasil kerjanya. Namun, para pekerja dibayar dengan Gulden. Pemerintah menyediakan tempat-tempat hiburan yang mau menerima Gulden. Kebiasaan ini ditengarai juga menjadi penyebab banyak etnis Tionghoa suka tinggal di Belitung waktu itu dan berlangsung sekitar 100 tahun. Kebiasaan pekerja Tionghoa minum kopi sebelum dan setelah bekerja juga mempengaruhi orang-orang Melayu. Kebiasaan itu akhirnya jadi tradisi dan masih berlangsung sampai sekarang.

Fasilitas toilet dan kamar mandi di setiap kavling motorhome park/camping ground di Manggar,Beltim.(Foto:YD)

Fasilitas toilet dan kamar mandi di setiap kavling motorhome park/camping ground di Manggar,Beltim.(Foto:YD)

Sebelum driver dan guide pamit, driver dengan cekatan membuat tempat tidur di dalam motorhome. Kursi dan sofa di siang hari secara instan berubah fungsi menjadi tempat tidur pada malam hari. Guide memberi petunjuk-petunjuk praktis mengenai fasilitas di camping ground, memperkenalkan kepada petugas yang berjaga malam itu dan memastikan apakah ada yang masih saya butuhkan lagi. Setelah lelah bepergian seharian, saya pun terlelap di dalam motorhome.

Esok paginya saya sarapan di meja dan kursi lipat yang telah dikeluarkan dan disiapkan oleh driver sejak semalam. Suara burung berkicau, danau Sungai Bandong berwarna biru hampir tanpa riak menemani saya menyantap nasi uduk belitung. Dua warga lokal tampak  sedang mempersiapkan peralatan pancingnya di tepi danau di dalam camping ground. Ya, itu salah satu kegiatan yang diperbolehkan di danau. Karena danau itu terbentuk dari eks galian timah di sungai maka dilarang berenang di sana. Tetapi dengan melihatnya saja dari camping ground dalam suasana yang jauh dari hiruk-pikuk sudah cukup menyenangkan.

Heritage penambangan timah Klapa Kampit

Stoven di Klapa Kampit,Beltim.(Foto:YD)

Stoven di Klapa Kampit,Beltim.(Foto:YD)

Hari kedua melihat situs-situs penambangan timah di Klapa Kampit. Sebelum menuju open pit, saya diajak melihat stoven. Stoven adalah cerobong asap dari tempat pembakaran timah. Tempat pembakarannya berada di dalam tanah. Pak Najar, warga lokal yang menemani saya menjelaskan, Belanda membangun tunnel (terowongan) di bawah tanah untuk menambang timah di Belitung. Di sekitar tempat stoven, kami berdiri di atas sembilan level lorong bawah tanah berkedalaman lebih dari 60 meter di bawah permukaan tanah. Beberapa lorong ada yang langsung terhubung dengan lorong-lorong di open pit yang berada di puncak Gunung Kikarak.

Timah yang ditemukan di Belitung dalam bentuk bubuk/tepung. Perusahaan Belanda membakarnya untuk dibentuk jadi lempengan/tablet sebelum dibawa keluar. Sedangkan perusahaan Australia langsung membawanya masih dalam bentuk bubuk.

Diantara ilalang yang tumbuh lebat dan subur tampak sisa-sisa reruntuhan. Pak Najar mengatakan itu sisa-sisa dari pondasi rumah-rumah mess orang Belanda. Ketika Jepang menyerah kepada sekutu, mereka yang waktu itu menjajah Indonesia membombardir penambangan timah di Belitung. Penambangan Belanda di Klapa Kampit semua hancur dan cerobong stoven itu saja yang tertinggal.

Open pit,ikon pariwisata Klapa Kampit,Belitung Timur.(Fto:YD)

Open pit,ikon pariwisata Klapa Kampit,Belitung Timur.(Foto:YD)

Kami agak memutar jalan sedikit agar motorhome dapat parkir. Dari sana masih harus berjalan kaki lagi sekitar 45 menit. Open pit di Klapa Kampit adalah penambangan timah terbuka terbesar di Asia Tenggara. Sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Beberapa wisatawan mulai mengunjunginya. Dari puncak sampai ke tepian danau open pit mesti menuruni 6 level dengan kedalaman sekitar 42 meter. Kedalaman danau open pit diperkirakan lebih dari 60 meter. Dasar danau berupa pasir penghisap. Belum ada tanda-tanda peringatan maupun pagar pengamanan di sini.

Open pit di Klapa Kampit jadi saksi penambangan timah mulai dari zaman eksplorasi oleh Belanda sampai eksploitasi oleh perusahaan dari Australia. Sekarang lubang menganga itu pun masih menyaksikan aktivitas penambangan timah tradisional di sekitarnya dan perkebunan sawit.

Soto lontong belitung dan Mak Jannah

Perjalanan sekitar satu jam kembali menuju Tanjung Pandan dari Klapa Kampit kami lalui dalam hujan deras. Setiba di kota kami langsung menuju KV Senang. Menyantap soto lontong belitung hangat-hangat. Soto berkuah santan encer dengan pilihan suiran daging sapi atau ayam. Di dalam Kedai Mak Jannah ada foto-foto tua repro. Mak Jannah sang pemilik kedai menjelaskan yang ada di dalam foto-foto itu semua berada di dekat kedainya. Walaupun tidak seperti dulu, beberapa masih dapat dilihat sampai sekarang seperti jam di Toserba Barata yang menempati bekas kantor Biliton. Dan itu dapat dilihat langsung dari Kedai Mak Jannah.

Mak Jannah bercerita, soto lontong belitung kreasi racikannya saja hasil dari mencoba resep-resep yang dia cari dalam majalah-majalah wanita. Usaha kedai milik orang tua kini diteruskan perempuan berumur sekitar 60-an tahun itu. Awalnya hanya menjual minuman. Kemudian banyak yang memintanya menyediakan makanan. Dia tidak percaya diri terhadap masakannya. Tetapi banyak yang menyemangati sampai dia membuat mie belitung. Setelah banyak yang datang ke kedainya, Mak Jannah semakin percaya diri. Dia mencari berbagai resep masakan dari majalah-majalah wanita. Kemudian mencobanya. Meski ada penjual lainnya, referensi soto belitung ya di Kedai Mak Jannah ini.

Majesty motorhome.(Foto:YD)

Majesty motorhome.(Foto:YD)

Dari Tanjung Pandan perjalanan dilanjutkan ke pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi. Di halaman parkir sebuah restoran yang kini berdiri di pantai Tanjung Tinggi tak jauh dari monumen Laskar Pelangi, motorhome kami parkir. Kanopi dibuka, meja dan kursi lipat disiapkan. Sayangnya, hujan kembali turun. Piknik yang direncanakan mesti ditunda. Kami putuskan untuk ‘ngopi cantik’ saja di restoran yang tampaknya masih baru.

Malam terakhir di Belitung, motorhome diparkir di Kampong DeDaun. Ini adalah camping ground motorhome di barat. Kampung DeDaun sendiri adalah sebuah tempat outing yang dilengkapi dengan restoran (hanya buka pada akhir pekan, Jumat, Sabtu dan Minggu) berkapasitas 60-80 pax dan area luar ruang yang bisa mengakomodasi 250-500 pax. Selain itu, disediakan berbagai peralatan untuk beraktivitas di pantai seperti sepeda dan kano, fasilitas umum seperti toilet dan kamar bilas/kamar mandi, musholla, gazebo-gazebo serta kursi-kursi pantai.

Kampong DeDaun,motorhomepark/camping ground di Belituung barat.(Foto:YD)

Kampong DeDaun,motorhomepark/camping ground di Belituung barat.(Foto:YD)

Perjalanan ke Belitung selalu memberikan pengalaman berbeda. Ke Belitung tak hanya melulu menginap di hotel yang kini semakin banyak jumlahnya terutama di Belitung barat, tetapi juga dapat menginap di akomodasi-akomodasi unik seperti tenda safari dan rumah pohon di Batu Mentas, Badau atau di atas motorhome yang dioperasikan oleh Majesty Motorhome. Ini adalah kendaraan rekreasi pertama dan untuk saat ini menjadi satu-satunya di Indonesia. Apapun gaya perjalanan Anda, sebenarnya Belitung bisa mengakomodasinya. *** (Yun Damayanti)