Catatan Perjalanan Bangka (4 – habis )     Oleh : Arifin Hutabarat

Di antara ratusan pesepeda motor peserta event lokal Sungailiat Adventure Trail minggu lalu di Bangka, memang tampak terelip beberapa orang peserta dari Malaysia. Tapi tak bisa diharapkan mereka akan datang dalam jumlah banyak kan?.

Nah, mari kita kembali menengok pulau Bangka itu sendiri, beradasarkan perjalanan dan tur yang dilaksanakan oleh Pemkab Bangka melalui Dinas Pariwisatanya dengan kegiatan Famtrip bagi 10 wartawan dari Jakarta dan 10 TA/TO dari beberapa daerah lain di luar pulau Bangka. Setibanya dari Jakarta, dari bandara Pangkal pinang sekitar jam 8 pagi kami langsung dibawa menuju ke Sungai Upang, seperti diceritakan di awal laporan ini. Pada hari kedua esoknya dibawa melihat pantai Matras, dan pantai Parai, di antaranya mampir untuk coffee time di satu kafe, bergaya sangat lokal. Esok paginya seusai makan pagi di hotel, menuju menyaksikan pembukaan satu event lokal, kegiatan yang bernama Sungailiat Adventour Trail. Ratusan pesepeda motor lokal mengikuti trail ini, memang, tampak menyelip antara 6-8 orang peserta pesepeda motor dari Malaysia. Usai acara pembukaan, itinerary dilanjutkan  menuju ke sebuah kuil bernama Pagoda Nusantara, di puncak bukit yang amat terjal. Di sana makan siang gaya lokal lagi. Suasana kental sekali lokalnya, atau amat mengesankan bagi kita wisatawan nusantara. Di situlah menjadi pertanyaan, apakah wisman akan dapat menikmati suasana ala “kita” seperti itu?

Berdasarkan kenyataan itu pula saya memberanikan diri mengatakan dan menganjurkan, itinerary dan objek-objek atraksi di Bangka lebih baik pemasaran dan penjualannya diarahkan ke pasar wisata domestik saja.

Sebenarnya, mengenai fenomena pengembangan wisata domestik ini pernah kita telaah di ruangan sini di bawah judul WISATA DOMESTIK? JANGAN MISLEAD! Yaitu pada  15 Desember, 2008, antara lain ditulis begini : wisata domestik di negeri kita pada dasarnya bertumbuh alamiah. Tumbuhnya wisnus akan sejalan dengan tumbuhnya penghasilan masyarakat, dan tumbuhnya kebutuhan akan berlibur. Jikalau ingin mengalihkan sasaran ke wisnus secara pendekatan bisnis adalah praktis: sediakanlah sebanyak mungkin materi informasi yang bersifat petunjuk-petunjuk! Itu akan memudahkan warga ketika hendak dan sedang bepergian. Materi tersebut tentu saja berfungsi ganda, selain memudahkan dan memenuhi tuntutan bagi kebutuhan publik, sekaligus juga memotivasi masyarakat berlibur di dalam negeri. Bisa berupa materi cetak, juga melalui internet.

“Sediakanlah di tempat-tempat sumber datangnya wisnus, dan di tempat-tempat yang menjadi destinasi bagi wisnus.”

Mengapa waktu itu kita berikan perhatian khusus pada wisata domestk? Banyak negeri mulai memajukan secara konsepsional wisata domestiknya.  Maka, kendati di negeri kita pertumbuhan wisnus selama ini sebenarnya berjalan alamiah, namun kini diperlukan upaya untuk semakin meng-generate wisnus. Dalam hal itu pula para operator tur mestinya bisa berperan dan memanfaatkan peluang bisnis.

Kita juga memaklumi, mempromosikan destinasi dan kegiatan tur pada masyarakat dalam negeri, dewasa ini sudah amat hebat didukung oleh media, baik media cetak maupun elektronik. Tiada siaran televisi kini mengudara tanpa adanya siaran-siaran yang menarik dan menuntun warga untuk berwisata di dalam negeri. Hampir tiap hari.

Para operatur tur juga harus mengubah “paradigma”. Mereka harus memanfaatkan kemajuan tekonologi informasi.

(Waktu itu dicatat), grup hotel Panghegar di Bandung, sampai sebelum 1998 sekitar 30 persen tamu datang dari mancanegara. Kini hampir 100 persen tamunya dari dalam negeri dan memberikan hasil yang bagus.

Kalau pun hendak meng-generate dan secara ekstra mengupayakan peningkatan wisnus, dianjurkan menggarap MICE – meeting, incentive, convention, exhibition. Utamanya meeting dan program incentive.

Contoh lain, Saudi Arabia sebagai eksportir minyak terbesar di dunia kini menginginkan lebih banyak wisman berkunjung, dan, menginginkan lebih banyak lagi warganya agar berwisata di dalam negeri alias wisata domestik.

Saudi Arabia ini juga memproyeksikan bahwa pariwisata domestik akan tumbuh mengejutkan dari 128 juta perjalanan tahun 2013 menjadi 640 juta pada tahun 2019.

Pada tahun 2009, tercatat masih sekitar 32 juta perjalanan pariwisata domestik (199 juta malam). Dan di atas telah kita ungkapkan bukan? Lebih 2 miliar perjalanan wisata domestik setahun dicatat di Amerkia Serikat dan di Cina. Secara analogis bisa kita harapkan bahwa jumlah wsinus kita di Indonesia bisa mencapai beberapa kali jumlah penduduk. Jumlah penduduk kita saat ini hampir 300 juta. Wow***(habis)