Catatan Perjalanan     Oleh : Arifin Hutabarat

Makan ramai-ramai di restoran dengan ruang terbuka kendati diselimuti panasnya tropis (tapi dihembus sepoi oleh angin laut) merupakan suasana yang sangat dinikmati oleh masyarakat kita, begitu juga ketika mereka berwisata domestik. Makan sambil berkeringat. Wisman tentu merasa asing dengan suasana seperti itu. Gambar ini mencerminkan ibaratnya wisnus kuliner di satu restoran atau rumah makan di pantai bernama Batu Bedaun di pulau Bangka, ketika rombongan kami acaranya makan siang. Wisata kuliner di Bangka berpotensi besar menjadi atraksi bagi wisnus dari pulau Sumatra atau Jawa. Operator tur Bangka perlu mengintensifkan penggarapannya. Jadi, tidak perlu meloncat jauh-jauh mencari wisman ke luar negeri. (foto: AH)

Anda mungkin merasa ini berlebihan, tapi kenyataan yang kini terlihat, ditambahkan dengan perbandingan-perbandingan masa-masa sebelumnya dan prospek yang terlihat mengesankan di kekinian, bisa digambarkaan seperti ini : masyarakat Bangka sebaiknya tak usah berpikir dan berharap, apalagi mau menggantungkan pariwisatanya pada inbound tourism yaitu wisman untuk ramai berkunjung ke pulau ini. Perhatikanlah faktor-faktor 3A-nya (Aksesibilitas, Akomodasi/Amenitas dan Atraksi) dari perspektif bisnis mendatangkan wisman. Hampir semua faktor tersebut masih relatif sangat ketinggalan. Demikian juga masyarakat dan budaya penduduknya. Mereka tampak akan lebih hidup dan bergaul baik dengan masyarakat Indonesia sendiri. Contohnya, ketika wisnus berwisata kuliner di.pulau Bangka, jenis makanannya, cara memasak hingga cara makan bersama ramai ramai, di rumah makan pada ruangan terbuka, di dalam rumah atau dipinggir jalan, suasana khas melayu atau Indonesia ini dapat dipastikan akan sangat dinikmati oleh wisnus ketimbang oleh wisman.

Kendati tanpa data statistik, menurut cerita para pengusaha kuliner dan menurut kenyataan kasat mata yang kini sehari hari di pulau Bangka umumnya memperlihatkan betapa para wisnus menikmati atraksi kuliner di pulau itu kini telah menjadi cerita mulut ke mulut. Apalagi para ibu-ibu di luar Bangka cenderung berulangkali menceritakan pengalaman kuliner mereka ketika telah berpengalaman berkelompok berwisata ke Bangka.

Kementerian Pariwisata melalui satu paparan dari Menteri Pariwisata Arief Yahya (28/4/2016) pernah menyatakan data statistik ini : Pengeluaran wisnus 2015 di Indonesia mencapai Rp 224,68 Triliun, jauh lebih besar dari pengeluaran wisman 2015 sebesar US$ 11,9 Miliar atau saat iu ekivalen Rp 163 Triiun. Perhitungannya diperoleh sebagai berikut:

Yang menarik pula di pulau Bangka, telah dibuktikan bagaimana satu event bersepeda motor cross country telah menarik peserta hampir 200 pesepeda motor di satu hari minggu lalu. Bagusnya lagi, pemda tampak berkesadaran  akan potensinya untuk pariwisata domestik. Itu sebenarnya sudah tercermin melalu uraian di website resmi Pemkab Bangka. Kita kutip: Sektor Pariwisata, Kabupaten Bangka juga menyimpan potensi non ikan yaitu untuk pengembangan wisata bahari. Tidak hanya  wisata bahari melainkan beragam jenis, mulai dari wisata destinasi, wisata kuliner, wisata religi, wisata pertanian, wisata pendidikan. Bukankah karakter destinasi dan atraksi seperti tersebut itu di pulau Bangka akan lebih mudah terjual pada wisnus ketimbang ke wisman?*** (bersambung)