Catatan perjalanan  Oleh : Arifin Hutabarat

Di salah satu sudut pantai di Parai Hotel & Resort, Bangka ini, wartawati ini berfoto selfie. Latar belakang tampak Laut Cina Selatan, bagian dari Lautan Pasifik, kadang entah mengapa disebut juga dalam bahasa Indonesia, Lautan Teduh. Dengan tour guide yang piawai dan berpengalaman, pantai dengan pemandangan demikian plus legenda-legenda lokal, niscaya akan menjadi story telling yang menarik di telinga wisatawan.

Pemkab Bangka mengajak 10 wartawan dari Jakarta,  bersama 10 TA/TO (travel agent/tour operator) anggota ASITA dari Jakarta dan dari beberapa daerah (dari Sumatra Barat, Bandung, Palembang dll.) ke daerahnya, minggu lalu. Para wartawan itu anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Forwaparekraf. Saya ikut serta. Tentu maksud tujuannya ingin menunjukkan spot-spot pariwisata setempat (tourist spots), agar dipromosikan dan dijual sebagai paket-paket wissata. Dan tentu saja dianggap momentumnya jadi “kebetulan” lebih tepat di tengah pariwisata sedang harus “tiarap” lantaran epidemi virus Corona. Mengapa tepat?

Mereka telah membangun secara swadaya jembatan-jembatan rekreasi dengan pondok alias cottages di atas air sungai, niscaya akan cocok sekali dinikmati oeh wisatawan lokal; kemudian pada waktunya tentu akan meningkat ke wisata regional (antarkabupaten) hingga kemudiannya lagi meningkat ke wisata nusantara atau wisata domestik, antarprovinsi.

Suasana krisis yang tak terelakkan dan yang membungkam pariwisata dewasa ini, oleh epidemi Covid-19,— bukankah sebaiknya dimanfaatkan untuk mempersiapkqn pemasaran dan penjualan destinasi, untuk dilaksanakan segera nanti seusainya badai epidemi Corona ini? Dan ternyata itulah salah satu yang dapat dilihat di Bangka ini. Potensi alam , budaya, atraksi dan keadaan infrastruktur hingga dewasa ini, tidak memperlihatkan kesiapannya untuk mengharapkan kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman. Jadi, dengan ekstrim perlu dinyatakan dan diakui, akan lebih baik jika Bangka sebagai destinasi wisata dengan berkesadaran, artinya menyiapkan konsep saja membangun pariwisata domestik atau wisdom. Kita kini mempopulerkannyya sebagai wisnus, wisata nusantara.

Konsep yang mereka laksanakan secara mandiri atau swadaya, “wisata berbasis konservasi”, dituangkan dengan blue-print yang tercermin di gambar ini. Setiap pengunjung ke desa ini dapat melihatnya.

Sungailiat nama kota di kabupaten itu. Kurang satu jam naik mobil dari bandara di Pangkalpinang, ibukota provinsinya. Satu tourist spot yang sudah sekitar sepuluh tahun ini telah populer ialah pantai Parai. Teluk yang tampak indah, teluk yang sangat ideal untuk wisatawan mandi-mandi laut. Di teluk itu berbisnis satu outlet Parai Beach Hotel & Resort. Hotelnya tahun lalu beroperasi dengan 75 kamar, (25 kamar lainnya sedang renovasi) per tahun rata-rata terisi di bawah 50%, menurut Martin, sang General Manager.

Martin, GM Parai Hotel & Resort.

Setidaknya dua kali setahun ada kapal pesiar internasional yang mampir berlabuh, dan biasa menurunkan lebih 1000 penumpang wismannya untuk shorex, shore excursion alias tur di pantai.

Tapi yang lebih perlu dicatat dan diperhatikan ialah ketika berkunjung ke desa yang namanya sungai Umang. Dari kota Sungailiat pun sekitar satu jam saja perjalanan. Tapi ada satu bagian jalan, sekitar 7 kilometer saja panjangnya persis sebelum tiba di Sungai Umang itu, harus ditempuh sekitar setengah jam yang melelahkan lantaran kondisi jalan yang tak mulus.

Di lokasi yang namanya Sungai Umang itu, penduduk yang mendiami tiga desa di bawah pimpinan mereka yaitu Kepala Desa, tampak kesadaran wisata mereka telah hidup secara swadaya. Sang Kepala Desa menceritakan sudah sekitar dua tahun ini mereka menerapkan apa yang mereka sebut sebagai “Wisata berbasis konservasi”.

Pemahaman mengenai wisata konservasi tampak dikuasai benar oleh sang kepala desa dan menanamkan konsep itu pada masyarakat lokalnya. Rombongan-rombongan dari tempat lain diundang, diajak berkunjung, dipersilahkan berpiknik, di desa sungai Umang itu, jembatan-jembatan memberi suasana rekreasi yang telah mereka bangun, ada pondok-pondok di mana rombongan beteduh dan makan-makan bersama dalam suasana piknik….namun satu syarat harus dipenuhi, yaitu setiap rombongan diminta membawa sejumlah bibit atau benih pohon dan mereka bersama melakukan penanamannya. “Wisata ke sini haruslah berbasis konservasi,”begitu dengan tegas kata Kepala Desa. Termasuk pramuka yang hendak beranjangsana dan latihan pun, diminta membawa sejumlah bibit pohon unttuk mereka tanam.*** (bersambung)