Anak-anak pun lega bermain.

Ada 6 Zone untuk keberangkatan

Ada 6 Zone untuk keberangkatan

Gedung terminal 3 bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, desain dan tampilannya memang bermaksud bergaya futuristik. Dari luar tampak rupa bangunan yang mencerminkan efisiensi tanpa corak dan ornament yang rumit. Tetapi begitu memasuki ruangan terminal, mulai dari ruangan luas hampir bujur sangkar, kemudian naik eskalator  atau tangga memasuki ruangan waiting lounge, maka suasana futuristic itu diciptakan dengan tinggi plafon yang selangit, seluruh dinding kaca tembus pandang ke luar, tanpa terhalang tiang di tengah karena memang tanpa tiang penyanggah yang ‘konvensional’.

Bayangkanlah atap megah Gelora Bung Karno di Senayan Jakarta. Kerangka malang melintang di bagian atas

Terminal 3 tampak dari apron.

dan dinding, yang tak seberapa banyak namun rapi, menyerupai modernitas bandara Kuala Lumpur yang kini sudah kesohor di dunia dengan sebutan KLIA, Kuala Lumpur International Airport.

Terminal keberangkatan  itu dibagi atas enam zone. Zone itu sebenarnya penamaan saja sebagai pengganti kata-kata ruangan tunggu atau waiting lounge, lagi pula tiada sekat dinding yang memisahkan, maka sebutan zona atau kawasan terasa pas. Zona, tempat calon penumpang menunggu sebelum dipanggil boarding menuju pesawat. Terlebih lagi, barisan tempat duduk yang nyaman, beralaskan karpet, ditengahi oleh koridor terbuka dengan lantai mengkilat, membuat anak-anak kecil pun enjoy berlari atau bermain. Mereka tak akan cepat bosan bilamana harus menunggu satu jam atau lebih menjelang panggilan boarding.

Masyarakat boleh membanggakan Terminal 3 ini. Menyejukkan bagi calon penumpang pesawat terbang. Dan jauh lebih menyenangkan dibandingkan terminal 1, yang sama-sama diperuntukkan bagi operasi penerbangan domestik.

Kalaupun mau mengeluh, bisa jadi PA sound system yang kurang tepat mixing-nya, seringkali menghasilkan suara dengan gema yang membuat ucapan tidak jelas. Public Announcement mengenai panggilan boarding, penumpang, mengenai jadual pesawat dan lain sebagainya, terdengar tak jernih.

Ketika tiba baru turun dari pesawat terbang, rasanya juga legowo mendapatkan ruangan ketibaan yang sama kesan dan suasananya yang ‘cool’ ketika hendak berangkat. Tentu saja ruangan ketibaan itu berada di lantai dasar. Luasnya pun memberi kesempatan bagi pengelola bandara menyediakan sebagian lantai yang diperuntukkan bagi penjemput, untuk menunggu dan berjumpa di bawah tanda bertuliskan huruf besar: Meeting Point.

Bagi perokok memang jauh dari menyenangkan. Untuk ruangan sedemikian luas dan memanjang itu, hanya tersedia dua ruangan masing-masing berukuran 3 X 4 meter saja. Masalahnya adalah, di dalamnya cuma dilengkapi satu lubang exhauster yang berukuran paling kecil. Maka asap mengebul pengap, sementara hanya dua tempat abu rokok dan sampah, yang jarang ditangani oleh petugas cleaning, dipenuhi sampah bekas gelas minum dan puntungan rokok yang melimpah ruah.

Saat ini baru dua maskapai penerbangan untuk rute domestik yang telah pindah beroperasi di terminal 3. Yaitu Mandala Airlines dan AirAsia.