Didi L. Manaba,Ketua ASITA Sulawesi Selatan.(Foto:YD)

Didi L. Manaba,Ketua ASITA Sulawesi Selatan.(Foto:YD)

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin akan diperluas lagi. Karena bandara ini sudah mulai tidak memadai, penggunaannya mulai over capacity. AirAsia, SilkAir, dan Saudia masing-masing menghubungkan Makassar dengan Kuala Lumpur, Malaysia; Singapura, dan Madinah, Arab Saudi.

Pelaku industri setempat sadar agar jangan hanya penerbangan langsung luar negeri itu bermanfaat bagi bisnis outbound saja. Bagaimana dengan inbound yang memasukkan wisman dari luar negeri?

“ASITA Sulawesi Selatan sekarang sedang melakukan bagaimana bisa menciptakan 2-ways traffic, terutama bagi Saudia. Jadi bukan hanya mereka mengambil segmen Umroh dari Makassar tetapi kita harapkan ada kunjungan wisatawan dari Timur Tengah ke sini. Timur Tengah kan tidak hanya Arab Saudi. Anggota ASITA Sulsel yang fokus pada perjalanan Umroh mencapai 30%. Kepada mereka ini saya dorong agar sekaligus mencari tahu apa yang diinginkan oleh segmen Timur Tengah. Jika berhasil menciptakan 2-ways traffic, maskapai tentu senang, kan? Karena tidak mudah mendatangkan direct flight,” kata Didi Manaba, Ketua ASITA Sulawesi Selatan di Makassar.

Apabila mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisman yang datang langsung melalui Bandara Sultan Hasanuddin tidak sebanyak dibandingkan bandara-bandara internasional lainnya. Tetapi, wisman masuk ke Sulawesi Selatan ada yang dari Jakarta, Bali, Jogja, Surabaya dan Nusa Tenggara Barat.

“Itulah tampaknya bandara kami bukan sebagai pintu masuk utama wisman,” kata Didi lagi. Direncanakan, tahun ini akan memberi branding pada bandara di Makassar, ‘Center Point of Indonesia’. Dengan branding baru itu diharapkan, akan bertambah maskapai-maskapai internasional mau melayani rute ke Makassar. ***