Kehidupan di Bali itu, mengesankan saya dan 30 tahun yll saya tulis bagaikan “a world within this world”.Seorang muda, Meylina Hasbullah ke Bali lagi minggu lalu, tulisan dan fotonya meyakinkan pulau itu dengan “living culture” dan “performing culture”-nya tetap dunia tersendiri yang menggetarkan hati hingga kini. Inilah tulisan pertama dan foto-fotonya:

Pergi ke Bali saat peak season, dimana liburan sekolah di Indonesia membuat keluarga banyak yang bepergian, sudah pasti tiket yang tersedia untuk perjalananpun menjadi berkali lipat. Tiket pesawat seperti Lion Air, Garuda Indonesia, dan maskapai lainnya tentulah berada diatas harga 1,2 juta. Setelah membandingkan dengan harga semula yang berkisar 600 ribuan, memompa semangat saya untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di sana.

Berkali-kali ke Bali mendorong rasa percaya diri untuk mengemas paket perjalanan dengan mencontoh dari paket yang tersedia. Kali ini saya berada dalam rombongan yang berjumlah 13 orang dan kami menyewa sejenis mobil elf (harga Rp. 600 ribu / hari) untuk memuat kami semua. Sempat ada incident yang menyebabkan rombongan kami terpecah menjadi dua karena maskapai penerbangan yang kami naiki kurang dapat mengantisipasi lonjakan jumlah penumpangnya. Terpaksa sebagian dari kamipun menjadi penumpang pesawat berikutnya yang terbang 5 jam kemudian!

Berusaha tetap optimis, saya termasuk dalam rombongan yang datang sesuai rencana. Setibanya di Bali, kami langsung re-confirm tiket kembali ke Jakarta karena kuatir akan ‘terlempar’ kembali akibat lonjakan penumpang. Setelah menaruh barang di penginapan lokasi Kuta, langsung ke pantai bermain, berfoto narsis dan melihat sunset. Sore hari pantai Kuta dipenuhi dengan wisatawan yang menikmati matahari tenggelam. Bermain pasir, mengejar ombak, menendang bola membuat atmosfer santai secara keseluruhan. “Duh, ini Bali Bung..” Malamnya kamipun berjalan menikmati suasana Kuta yang hangar bingar. Terus terang, saya lebih senang berjalan kaki, macetnya jalan mengingatkan saya akan Jakarta. Di Bali, untuk clubbing terdapat beragam alternative.

Esok paginya, setelah olahraga mendadak di pantai Kuta (mendadak karena sejujurnya saya tidak rutin olahraga), rombonganpun pergi melihat kesenian di Gianyar. Pertarungan antara yang baik dan bathil dilakonkan dalam tarian khas budaya Bali, memunculkan tokoh-tokoh seperti Barong, Ranggada, Dewi Kunti juga karakter-karakter lainnya yang memikat. Bentuk panggung yang sederhana dan dekat dengan penonton menghadirkan ‘dialog’ akrab dan efek dramatis yang diperlukan.

Setelah itu rombongan pergi ke Tampak Siring, melihat 3 mata air yang memancar diiringi denting lonceng bagian dari suara doa dari penduduk setempat. Ornamen khas Bali terhampar di depan mata diterpa aroma khas bunga dan akar cendana yang dibakar. Melihat khidmatnya penduduk setempat berdoa, berlatar belakang lansekap yang berbukit-bukit, tidak salah bila tempat tersebut dijadikan tempat peristirahatan Presiden pertama RI. Namun sayang, tidak semua tempat terbuka untuk umum.

Menikmati pemandangan terasering khas Bali di Ubud sembari melihat keterampilan setempat adalah agenda selanjutnya. Dari Ubud, rombongan ke Kintamani, menikmati makan siang sambil melihat danau Batur di kejauhan. Eloknya…

Sebenarnya saya ingin ke Trunyan namun menurut sopir yang mengantar kami, perjalanan kesana lumayan berkelok-kelok dan lama. Baiklah, saya tunda dulu keinginan kesana untuk perjalanan berikutnya. Perut kenyang diselingi rintik hujan, kontan rombongan tertidur lelap di mobil. Perjalanan selanjutnya adalah Pasar Sukawati dengan harga barangnya yang murah meriah. Semangat rombongan berbelanja langsung berkibar begitu mobil diparkir. Serbuu…

Sebelum kembali ke Kuta, rombongan menyempatkan diri mengunjungi Art Center di Denpasar. Suasana luar biasa ramainya, niat semula yang hendak melihat Tari Kecak berubah menjadi ajang jalan-jalan sejenak disana.

Beberapa hari berikutnya, saya lebih banyak berada di Sanur yang tidak kalah indahnya. Memang lebih sepi dibanding Kuta, suasana lebih private dan lebih banyak wisatawan mancanegara. Olahraga air seperti parasailing, banana boat, selancar banyak dijumpai disana. Keinginan saya ke Tanjung Benoa, tempat olahraga air yang lebih khusus seperti diving dengan berat hati harus ditunda dulu. Tapi saya tidak keberatan, tiap sudut di Bali selalu menarik untuk dijelajahi. Berkali-kali ke Bali, pribadi saya tidak pernah merasa bosan. Selalu ada hal-hal baru yang ditemukan dan dirindukan disana. Atmosfer yang dibawa Bali masih mengandung magis yang tak terlupakan.

Jakarta, Juli 2008

MH