Bagaimana Pariwisata Selaras Kerjasama di Taman Nasional, Kawasan Konservasi? Dengar Pelaku Industri dan Penikmatnya

 

Rico Haus,General Manager Menjangan Resort.(Foto:YD)

Rico Haus,General Manager Menjangan Resort.(Foto:YD)

Saatnya kini memberi perhatian dan mengurus pengelolaan berbagai Taman Nasional agar selaras maju dengan kemajuan-kemajuan yang diharapkan pada pariwisata. Tahun lalu kita berjumpa dengan Rico Haus, General Manager The Menjangan Resort, yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat. Kami mencatat ide-ide dasar darinya dan harapannya, agar antara pengelola taman nasional dan pemerintah dengan sektor swasta bisa bekerja bersama-sama. Jika pengelola taman nasional dan pemerintah serius mengkonservasi, mengelola, menjaga dan merawat taman nasional, maka seyogianya  sektor swasta yang memasarkan dan mendatangkan pengunjung.

Dalam membangun pariwisata di kawasan konservasi seperti taman nasional perlu membina kepercayaan (trust) antara pengelola-pemerintah dengan sektor swasta yang beroperasi di dalamnya, dan antara sektor swasta yang memasarkan dan mengoperasikan aktivitas di taman nasional dengan calon pengunjung. Dan pada akhirnya, pengunjung percaya bahwa pengelola-pemerintah serius mengelola dan melaksanakan konservasi serta promosi yang ditawarkan oleh pelaku benar adanya.

Baik para operator perjalanan maupun akomodasi yang berada dan beroperasi di dalam kawasan

Jalan penghubung antara kamar dengan bagian-bagian lain seperti restoran,beach club dan lain-lain di dalam Menjangan Resort di Taman Nasional Bali Barat.Tamu bisa menggunakan kendaraan safari modifikasi bertenaga listrik atau berjalan kaki sambil mendengarkan berbagai suara kicauan burung di siang hari.(Foto:YD)

Jalan penghubung antara kamar dengan bagian-bagian lain seperti restoran,beach club dan lain-lain di dalam Menjangan Resort di Taman Nasional Bali Barat.Tamu bisa menggunakan kendaraan safari modifikasi bertenaga listrik atau berjalan kaki sambil mendengarkan berbagai suara kicauan burung di siang hari.(Foto:YD)

konservasi seperti taman nasional, dari pengalamannya, mengungkapkan, mereka tidak keberatan membayar fees, tamu-tamunya pun tidak keberatan membayar biaya masuk lebih mahal dari tempat-tempat lainnya. Sebab ini adalah tempat spesial. Untuk itu mereka berharap, ekspetasinya memperoleh pengalaman perjalanan yang menyenangkan, nyaman dan aman dipenuhi.

Something that we used to have in most of national parks in Europe and America, they don’t make seperation between foreigners and domestics. They make one rate for all visitors,” ujar Rico.

Penggunaan e-registration dan e-ticketing perlu dipertimbangkan oleh pengelola kawasan konservasi. Ticketing bisa dibagi-bagi menjadi tiket bagi pengunjung harian dan tiket bagi pengunjung yang akan bermalam atau lebih dari 24 jam di dalam taman nasional. Pembayarannya cukup sekali dilakukan. Dengan demikian, pengelola bisa secara real time mengetahui apakah jumlah pengunjung telah mencapai kuota atau belum. Sehingga bisa segera menyiarkan informasi kepada para operator maupun kepada publik apakah mereka bisa berkunjung ke taman nasional pada hari yang mereka inginkan. Selain itu, juga bekerja sama dengan perangkat desa dan masyarakat lokal di sekitar kawasan sehingga pengawasan terhadap pengunjung bisa benar-benar dilaksanakan.

Latar Belakang

Mengenai Tman-taman Nasional yang dimiliki oleh Indoneia, baiklah menelaah catatan perkembangannya.

Taman nasional, taman wisata alam, suaka margasatwa, taman buru adalah kawasan yang telah ditentukan dan ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh pemerintah. Kawasan itu dibagi-bagi ke dalam zonasi-zonasi. Diantaranya ada zona pemanfaatan, termasuk kegiatan pariwisata di dalamnya.

Kegiatan pariwisata yang bisa dilakukan tidak boleh eksploitatif. Semuanya harus mau melihat dan menyadari seberapa besar daya dukung/kapasitas pengunjung yang bisa diakomodasi di kawasan tersebut. Semua kegiatan yang dilakukan pegiat/pelaku wisata yang beroperasi di dalam kawasan konservasi harus mengacu pada aturan aktivitas-aktivitas wisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Semua pengunjung, domestik dan mancanegara, harus mentaati peraturan-peraturan di dalam kawasan konservasi dan bertanggung jawab terhadap semua aktivitasnya selama berada di dalamnya.

Mengapa pariwisata? Kawasan konservasi tidak bisa dielakkan dari keberadaan masyarakat/komunitas lokal yang telah lebih dulu bermukim di sana. Tidak menutup kemungkinan, di dalamnya ada lahan-lahan yang pernah dimanfaatkan oleh masyarakat sebelumnya. Tidak menutup kemungkinan pula sebelum suatu kawasan ditetapkan sebagai taman nasional, taman wisata alam dan lain-lain, kawasan itu telah dikunjungi oleh wisatawan (traveler) sebab daya tariknya kemudian – biasanya– diikuti dengan masyarakat lokal yang mulai merintis usahanya.

Status sebagai kawasan konservasi juga diperlukan agar daya tarik alam yang telah menarik perhatian pengunjung tersebut tetap lestari. Meskipun sebenarnya mereka tidak melihat secara keseluruhannya. Dengan masyarakat lokal di sekitar kawasan konservasi menerima langsung manfaat ekonomi dari aktivitas yang diperbolehkan untuk beroperasi di dalamnya sehingga bisa memompa semangat mereka mau turut terlibat dalam kegiatan konservasi. Aktivitas ekonomi pariwisata yang dijalankan oleh masyarakat lokal mulai dari pemanduan, porter, menjual hasil kebun/ladangnya, hingga membuka warung-warung, toko-toko menjual suvenir, penyewaan peralatan buat beraktivitas, hingga membuka usaha operator tur dan akomodasi.

Kawah Ijen dari puncaknya saat matahari terbit.(Foto:YD)

Kawah Ijen dari puncaknya saat matahari terbit.(Foto:YD)

Pengunjung datang ke taman nasional, taman wisata alam, suaka margasatwa dan lain-lain sebab pesona alamnya yang aduhai. Membayangkan itu berada di dalam kawasan konservasi, ekspetasinya tidak jauh dari lingkungan yang masih alami, bersih dan jauh dari segala macam polusi, serta terjaga dan terawat. Keberadaan fasilitas dasar pengunjung seperti tempat untuk membuang sampah, toilet, petunjuk-petunjuk dan papan-papan informasi yang jelas di titik-titik tertentu akan sangat diapresiasi. Petunjuk dan papan informasi dibutuhkan baik oleh pengunjung yang datang bersama operator maupun pengunjung mandiri. Sedangkan ketersediaan akomodasi di dalam taman nasional, bukan mandatori, namun bisa memberi nilai tambah.

Agar dapat mendatangkan pengunjung, selain hal-hal tersebut di atas, juga diperlukan pemasaran, promosi dan penjualan. Akan sulit apabila ini pun dibebankan kepada pengelola kawasan konservasi. Maka, keberadaan sektor swasta, termasuk usaha-usaha masyarakat lokal, dapat mengkomunikasikan antara keberadaan taman nasional, taman wisata alam dan lain-lain kepada publik yang lebih luas. Seperti daya tarik-daya tarik wisata lainnya, pengunjung ingin tahu apa saja yang bisa dilakukan dan diperolehnya saat berada di dalamnya.

Bukan tidak ada pengembangan daya tarik dan aktivitas lain di sekitar kawasan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Ini juga mesti didorong dan didukung sama besar dengan upaya-upaya pelestarian alam berkelanjutan di dalam kawasan konservasi itu sendiri. Karena inisiatif-inisiatif tersebut sangat mungkin membantu pengelola kawasan konservasi mengendalikan dan men-sreening pengunjung. Selain melalui registrasi dan biaya masuk.

Daya tarik wisata di kawasan konservasi tidak sama dengan theme park. Di sana kapasitasnya terbatas dan harus dibatasi. Pengawasan masuk-keluar pengunjung mesti dilakukan dengan ketat. Pengaturan alur pengunjung mau tidak mau dilakukan agar tidak terkonsentrasi di satu atau dua tempat saja di dalam kawasan. Selain registrasi dan biaya masuk yang adil (tidak berbeda jauh antara pengunjung asing dengan domestik/lokal), para operator, pemandu/porter, hingga ojek motor yang beroperasi di dalam kawasan konservasi harus terdaftar dan punya izin dari pengelola kawasan konservasi. Dalam hal ini dituntut ketegasan dan komitmen penegakan peraturan oleh pengelola kawasan.

Jelas perlu sosialisasi the Dos & Donts’, saat mengunjungi kawasan konservasi seperti taman nasional, taman wisata alam dan lain-lain. Sosialisasinya antara lain ke sekolah-sekolah, ke kampus-kampus, juga kepada komunitas-komunitas pelaku industri pariwisata, pecinta alam, pengelola even dan lain-lain juga perlu dilakukan. Ini bisa dilakukan secara interaktif dengan mendatangi langsung, mengadakan even khusus di pusat-pusat keramaian, maupun secara daring melalui media sosial dan blogging.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.