TTI ah turki Antalya. Ljubljana. Luang Prabang. Pengalaman terbaru tiga kota itu seperti mengingatkan. Bagaimana membangun ketahanan dan tetap berkembang di kegiatan pariwisata ketika terlalu banyak jumlah wisatawan berkunjung, atau sebaliknya, ketika terlalu sedikit.

Menurut berita minggu lalu, pariwisata di Turki dihempas oleh masalah serius. 400 hotel telah ditutup di Antalya saja. Secara keseluruhan 1.300 hotel di negara itu saat ini sedang dijualkan, dengan harga gabungan sekitar $ 13.100.000.000. Pendapatan pariwisata negara itu turun 8,3 persen menjadi $ 31.460.000.000 pada tahun 2015, menurut berita di online Today’s Zaman.

Pariwisata menyumbang 11 persen pada PDB Turki. Ancaman Isis, tekanan dari krisis pengungsi, sanksi dari Rusia semua tergabung membawa efek buruk. Turki menderita kekurangan wisatawan.

Lain pengalaman Luang Prabang, tahun 1995, Lao kota candi diberikan status Warisan Dunia UNESCO. Dinyatakan jadi daya tarik jitu untuk wisata budaya. Kendati penduduknya sekitar 50.000 saja, kota ini menjadi tuan rumah bagi lebih dari 530.000 wisatawan asing dan domestik tahun 2014. Di kota ini, sebidang tanah berharga $ 8.000 tiga tahun lalu, sekarang dijual seharga $ 120.000. Akibatnya, kata sebuah artikel baru-baru ini di situs The Skift, ‘sebagian besar penduduk setempat tidak tinggal di sini lagi. ”

Terlalu sedikit kini wisatawan ke Turki. Tapi terlalu banyak di Laos. Dalam kedua kasus, mengejar pertumbuhan angka jumlah wisatawan telah dilakukan dengan dampak pengorbanan kesejahteraan penduduk. Ketergantungan berlebihan pada uang dari pariwisata.membuat penduduk menjual harta lalu pindah, atau menjadi tak punya apa-apa lagi manakala turis tak datang berkunjung

Pengalaman Ljubljana, menunjukkan bahwa mungkin ada alternatif. Selama satu dekade terakhir ibukota Slovenia itu telah difokuskan membangun pembangkit energi dengan tujuan membuat kota itu menjadi tempat hidup yang lebih baik bagi warga sendiri. Pusat kota pada dasarnya ditutup untuk lalu lintas kendaraan bermotor. Layanan taksi listrik disebut Kavilir memberikan wahana gratis untuk orang tua, penyandang cacat atau ibu dengan anak-anak. Ada sebuah artikel terbaru di Citiscope mengungkapkan, kekhawatiran bahwa ini akan membunuh bisnis local, nyatanya tidak pernah terjadi. Malahan, bisnis dan pariwisata meningkat di lokasi pusat-pusat bersejarah.

Tahun ini kota itu disebut the European Green Capital for 2016. Tahun lalu memenangkan penghargaan Destination WTTC. Ini adalah satu-satunya kota yang memenangkan dua kali the European Mobility Week Award.

Pada tahun 2012 kota itu bersama dengan Berlin dan Stockholm memiliki “tingkat pertumbuhan tertinggi kunjungan wisatawan yang menginap” selama lima tahun terakhir di antara semua ibukota di Eropa.

Upaya Ljubljana ini tidak berhenti di transportasi berkelanjutan. Ia juga ibukota Uni Eropa pertama yang merancang strategi Zero Waste, dan sudah mendaur ulang 2/3 dari limbah. Ada inisiatif masyarakat akar rumput untuk menumbuhkan taman dan membuat proyek berkebun di perkotaan. Tema bulanan sepanjang tahun disebutnya sebagai Ibukota Eropa Hijau, lalu fokus pada tema “Local-self sufficiency” bulan Februari, dan tagline “biodiversity and bees” untuk tema pariwista bulan Juli nanti.

Jadi, sementara penghargaan-penghargaan yang telah diterima membawa semacam publisitas yang menarik wisatawan untuk berkujung, dinyatakan itu tanpa mengorbankan penduduk setempat. Dan jika pun mereka harus pindah bertempat tinggal ke lokasi lebih jauh, penduduk setempat disenangkan dengan sistem transportasi yang luas, jalan-jalan dengan gratis, bebas limbah dan keterlibatan masyarakat pun berkembang. Pelajaran ini tampak dengan jelas.

Jika Anda ingin menjadi tempat yang lebih baik untuk dikunjungi, Anda mulailah dengan membangun tempat yang lebih baik untuk hidup (bagi penduduk sendiri).

Salah satu perbandingan untuk dapat ditarik dari news story ini, jadinya ialah,  “If you want to be a better place to visit, you start by building a better place to live,” begitulah tulisan itu ditutupnya.***(Rezal) 

Dari tulisan Jeremy Smith, kemarin 9 Februari 2016.

Sumber: http://news.wtmlondon.com/blog/responsible-tourism