Pengelola Mesjid Raya Baiturrahman meminjamkan sarung dan jubah kepada pengunjung yang dinilai pakaian yang dikenakannya tidak memenuhi standar pakaian muslim.(Foto:YD)

Pengelola Mesjid Raya Baiturrahman meminjamkan sarung dan jubah kepada pengunjung yang dinilai pakaian yang dikenakannya tidak memenuhi standar pakaian muslim.(Foto:YD)

Katanya, Aceh diibaratkan Serambi Mekkah. Mekkah, kota yang menjadi kiblat umat Islam. Katanya pula, setiap bulan Ramadhan imam dari Masjidil Harram datang ke Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh untuk memimpin solat tarawih dan menyampaikan ceramah. Konon, siapapun yang pernah bersujud di dalam mesjid raya itu akan selalu merasa rindu untuk datang kembali.

Sudah dua kali saya gagal masuk ke dalam dan beribadah di Mesjid Baiturrahman. Kesempatan ketiga datang ketika sedang menemani famtrip agen-agen perjalanan dari Kuala Lumpur, Penang, dan Kuala Trengganu dalam rangka Aceh Culinary Festival 2016 dan Banda Aceh International Coffee Festival 2016 minggu lalu. Famtrip itu diselenggarakan oleh Kementeriaan Pariwisata.

Pengalaman pertama saya datang ke mesjid cantik dan bersejarah ini beberapa tahun lalu barangkali juga dialami oleh banyak wisatawan, terutama yang baru pertama kali berkunjung ke Aceh. Waktu itu saya mengenakan celana panjang kargo longgar, kaos lengan panjang dilapisi kardigan yang menutupi panggul, dan tentu saja kerudung yang menutup rapat. Warga mulai ramai mendatangi mesjid karena hampir mendekati waktu solat. Kebetulan sedang berhalangan, saya hanya hendak mengambil gambar mesjid dari dalam pekarangan. Kami masuk dari gerbang depan. Rupanya, pakaian yang saya kenakan waktu itu belum cukup memenuhi syarat “pakaian muslim” untuk dapat masuk ke area mesjid. Seorang kawan yang menemani tidak memberitahu ada peminjaman sarung atau jubah di gerbang mesjid (barangkali dia sendiri tidak tahu?). Bisa dikatakan saya sedikit “main kucing-kucingan” dengan penjaga gerbang saat itu.

Bagi lansia maupun penyandang disabilitas ataupun lainnya,tempat duduk disediakan untuk mempermudah berwudlu di Mesjid Raya Baiturrahman,Banda Aceh.(Foto:YD)

Bagi lansia maupun penyandang disabilitas ataupun lainnya,tempat duduk disediakan untuk mempermudah berwudlu di Mesjid Raya Baiturrahman,Banda Aceh.(Foto:YD)

Pengalaman minggu lalu berbeda sekali dengan yang pertama. Mesjid Raya Baiturrahman sedang dalam proses renovasi dan ekspansi. Diproyeksikan pada tahun 2017, mesjid raya akan menjadi pusat dari kawasan Islamic Center di Aceh. Sejak pengalaman pertama itu, saya selalu mempersiapkan celana panjang berpipa lebar atau kulot lebar yang tidak memperlihatkan bentuk kaki dan atasan lengan panjang longgar dengan panjang menutupi sampai setengah paha tatkala berkunjung ke Aceh. Ketika memasuki pekarangan dari gerbang belakang, seorang petugas yang sedang berada di dalam bilik permanen hanya memperhatikan. Di belakang biliknya ada sebuah bangunan mungil bercat putih dengan tulisan JUBAH. Seorang kawan lain yang menemani menerangkan, bagi pengunjung yang pakaiannya dinilai tidak memenuhi standar “pakaian muslim” akan diarahkan ke bangunan tersebut dan dipinjamkan sarung atau jubah. Saya bertanya kepadanya, apakah kulot lebar, kaos longgar tapi panjangnya hanya lebih sedikit dari panggul yang dikenakan bisa memenuhi standar “pakaian muslim” di area Mesjid Baiturrahman? Bersyukur sekali, hari itu saya lulus.

Baru kali itu pula saya berwudlu di tempat yang tidak mengesankan becek dan kotor. Terkadang saya kesulitan menjelaskan kepada tamu ataupun kawan-kawan asing yang berkunjung ke mesjid. Meskipun mereka tidak pernah bertanya langsung tetapi pandangan matanya, terutama saat melihat tempat berwudlu yang mengesankan becek dan kotor dan seolah itu sudah biasa dan tidak jadi masalah, cukup menusuk perasaan.

Sinar matahari begitu terik pada siang hari sekitar jam dua siang di Banda Aceh. Alas kaki pengunjung tampak berserakan di pelataran samping mesjid. Tak terlihat tempat menaruh ataupun penitipan alas kaki di sekitarnya. Duuh, terbayang panas yang akan menyengat telapak kaki. Tetapi, tak ada rasa panas yang dibayangkan sebelumnya saat telapak kaki menginjak lantai marmer di pelataran.

Beribadah di dalam Mesjid Raya Baiturrahman dengan nyaman dan khusyuk.(Foto:YD)

Beribadah di dalam Mesjid Raya Baiturrahman dengan nyaman dan khusyuk.(Foto:YD)

Relung-relung diantara pilar-pilarnya cantik sekali. Lantai marmer ditambah penyejuk udara berdiri di beberapa titik, berada di dalam mesjid terasa menyejukan. Air mata menetes tanpa diundang ketika doa-doa diucapkan seiring dengan gerakan-gerakan solat. Tak ada pengunjung yang ingin segera meninggalkan mesjid. Ada yang membaca Al Quran, ada yang bertasbih, atau berdiam diri saja. Di halaman depan mesjid sebuah unit backhoe sedang bekerja. Begitupun para pekerjanya. Namun di dalam mesjid tidak terdengar suara ribut sehingga pengunjung dapat beribadah dengan tenang.

Nyaris tak terlihat tanda-tanda kerusakan di dalam mesjid yang memperlihatkan bekas gempa dahsyat dan tsunami besar pada tahun 2004. Menara di halaman depan sempat ditutup sejak peristiwa 12 tahun silam, sekarang sedang diperbaiki agar dapat berfungsi kembali. Sebagian plafon mesjid sudah diganti. Plafon baru ditambahi lukisan-lukisan kaligrafi. Lantai marmer di dalam mesjid adalah lantai baru dengan corak mendekati lantai asli.

Di sekitar Mesjid Baiturrahman tampak beberapa bangunan lama yang sekarang tampak kusam. Umumnya dimanfaatkan untuk berniaga. Itu semua, katanya, akan diganti dengan bangunan baru. Penghuninya pun akan direlokasi. Apakah ini terakhir kali saya melihat kepingan-kepingan kota lama Banda Aceh yang mengelilingi Mesjid Baiturrahman dengan sejarah panjangnya?

Salah seorang peserta famtrip, agen perjalanan dari Kuala Lumpur, selama tiga tahun berturut-turut, 2013-2015, menerima banyak pemesanan dari warga Malaysia yang hendak berwisata religi selama bulan Ramadhan di Aceh. Satu BPW berbasis di Banda Aceh menyebutkan, perusahaannya sudah menerima pesanan tiga grup cukup besar dari Malaysia yang akan berwisata selama Ramadhan yang akan berlangsung selama bulan Juni dan beberapa hari pada bulan Juli mendatang.

Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh.(Foto:YD)

Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh,sebelum renovasi.(Foto:YD)

Selain wisman dari Malaysia, dalam jumlah yang masih sedikit, wisman muslim dari Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand telah berkunjung ke Aceh. Salah satu itinerary utamanya adalah beribadah di Mesjid Raya Baiturrahman. Feedback tamu yang diterima oleh para pelaku perusahaan perjalanan yang mengadakan tur wisata halal di Aceh umumnya baik dan mengesankan.

Sekarang Aceh bersama Sumatera Barat hendak diarahkan oleh Kementeian Pariwisata sebagai tujuan wisata halal internasional, bersama juga dengan pulau Lombok.

Dua kali perjalanan ke Banda Aceh sebelum minggu lalu saya lakukan sebagai solo traveler. Seorang travel writer/blogger asal Polandia yang saya temui di Sabang dua tahun lalu mengakui solo travelingnya ke Aceh tidak menemui hambatan berarti. Dia cukup merasa aman dan nyaman.

Tetapi, seperti apakah standar “pakaian muslim” bagi orang muslim, atau apa standar “pakaian sopan” bagi non-muslim di Aceh, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Aceh, bagaimana dengan pelaksanaan hukum syariah terhadap tamu/wisatawan? Itu semua adalah pertanyaan paling sering dilontarkan baik oleh wisman maupun wisnus, dan dari perusahaan perjalanan di mancanegara. Aturan main berkunjung ke Aceh sudah disosialisasikan kepada perusahaan perjalanan di Aceh dan situs resmi pemda. Mengingat individu kian bebas melakukan perjalanan dan kegiatannya pun difasilitasi penuh kemajuan TIK, Aceh tidak boleh lagi ragu-ragu mengungkapkan jati dirinya dengan menginformasikan hal-hal yang ingin diketahui publik di luar provinsi itu sesering mungkin, berkelanjutan dan menggunakan semua media yang ada. Sejalan dengan itu, standar kebersihan seperti toilet, tempat wudlu, tempat beribadah mesti disamakan. Berceritalah, sehingga kami yang bertamu, walaupun sedikit, mendapat gambaran kehidupanmu yang beberapa waktu lalu sempat tak diketahui. Semuanya itu agar pengunjung tak hanya mengingat Mesjid Baiturrahman dan rindu bersujud di dalamnya saja. *** (Yun Damayanti)