Tahun 2015, industri penerbangan akan membawa 3,5 miliar penumpang, sekitar 9,6 juta setiap hari. Lebih dari sepertiga nilai perdagangan global diangkut melalui udara dan kontribusi penerbangan sekitar 2,4 triliun dollar AS terhadap PDB global. Industri penerbangan juga telah berkembang menjadi mesin pencipta lapangan kerja. Termasuk dengan manfaat dari penerbangan terkait pariwisata, industri ini turut mendukung terciptanya sekitar 58 juta pekerjaan di seluruh dunia.

Kemampuan industri penerbangan membuat dunia menjadi lebih makmur dan lebih terhubung karena bertumpu pada tiga pilar yakni, penerbangan harus aman, berkelanjutan dan menguntungkan.

Keselamatan adalah prioritas nomor satu bagi semua orang yang berhubungan dengan penerbangan. Dengan berbagi keahlian dan saling bekerja sama, telah dibuat standardisasi global sehingga dapat menciptakan produk-produk diantaranya IATA Operational Safety Audit.

Keberlanjutan adalah lisensi bagi penerbangan untuk tumbuh dan berkembang. Ada kemajuan luar biasa telah dicapai selama beberapa dekade terakhir terutama dalam mengurangi polusi suara dari mesin jet dan emisi dari bahan bakar. Tingkat kebisingan yang dihasilkan dari pesawat generasi terbaru minimal 15% lebih kecil dibandingkan dengan pesawat sebelumnya dan dalam penggunaan bahan bakarnya lebih efisien setidaknya 70% lebih besar daripada jet yang diproduksi tahun 1960-an. Sebagai sebuah industri, konektivitas udara berkomitmen untuk lebih mengurangi dampak penerbangan terhadap lingkungan dan memiliki target agresif mencapai pertumbuhan karbon netral dari tahun 2020, dengan pengurangan bersih emisi CO2 sampai dengan 50% pada tahun 2050 dibandingkan tahun 2005.

Profitabilitas adalah pilar ketiga. Untuk tahun 2015, laba bersih industri penerbangan 29,3 miliar dollar AS dari pendapatan total 727miliar dollar AS. Margin laba bersihnya empat persen. Apakah ini berarti bahwa industri penerbangan rata-rata akhirnya mendapatkan biaya modalnya?

Lebih dari setengah keuntungan global diperoleh di kawasan Amerika Utara. Sementara, keuntungan industri secara keseluruhan bisa dikatakan membaik. Meskipun, masih banyak perusahaan penerbangan yang menghadapi tantangan berat dan sedang berjuang menjaga pendapatan lebih besar daripada biaya-biaya yang dikeluarkan. Bagi industri apapun, mendapatkan kembali biaya modal adalah kinerja minimum absolut yang diharapkan. Industri penerbangan harus melanjutkan performa ini di masa mendatang dalam rangka mencapai modal 5 triliun dollar AS yang diperlukan guna mendukung penggandaan jumlah perjalanan udara seperti yang diharapkan selama dua dekade berikutnya.

     Tony Tyler, CEO IATA, saat membuka Simposium Keuangan Dunia IATA yang diselenggarakan pada 14-17 September 2015 di Barcelona, Spanyol, mengatakan, “Kita juga perlu dukungan dan kerja sama dari mitra-mitra di dalam rantai nilai penerbangan serta dari pemerintah dan regulator yang mengawasi kegiatan kami.”

Pada World Routes Strategy Summit di Durban, Afrika Selatan yang diselenggarakan pada tanggal 20 dan 21 September lalu, dimana para pemimpin maskapai penerbangan besar, kepala-kepala bandara dan badan-badan pariwisata dunia sedang berkumpul selama empat hari, 19-22 September 2015, pada World Routes 2015, menyimpulkan, badan pariwisata dan bandara perlu meningkatkan kemitraan mereka untuk menciptakan pembagian risiko yang lebih baik dan menawarkan mitigasi risiko. Kedua hal itu akan mendatangkan lebih banyak traveler karena resor-resor yang menarik dan kondisi perekonomian kawasan yang sehat saja tidak cukup lagi.

Sekarang ini, maskapai penerbangan berada dalam bisnis manajemen risiko. Risiko yang dihadapi penerbangan sangat besar dan beragam, mulai dari operasional dan keuangan serta isu-isu politik dan pengadaan. Agar mampu menarik rute-rute penerbangan baru yang penting, badan pariwisata dan bandara perlu memahami prospek manajemen risiko yang dihadapi oleh maskapai dan menawarkan kesempatan berbagi risiko yang lebih besar melalui kemitraan lebih dekat kepada mereka.

Maskapai penerbangan global sedang bertaruh dengan menempatkan multimiliar dolar untuk memesan pesawat-pesawat terbaru dalam armada mereka yang akan mulai dipakai untuk melayani dalam beberapa tahun ke depan. Pesawat-pesawat itu dapat ditempatkan di mana saja, jadi sekarang tergantung bagaimana destinasi-destinasi dan bandara-bandara meyakinkan para operator penerbangan. Kecanggihan dalam manajemen risiko di destinasi akan menentukan seberapa sukses dalam menarik lalu lintas traveler pada dekade-dekade mendatang. *** (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)