Author: Editor

Fenomenal-kah Pariwisata Kita 2009 ?

Perbanyak Operator, kalau perlu charter flight. Fenomena pariwisata kita tahun depan, bagi para tour operator yang sedang beroperasi bisa membawa saingan baru, namun bagi yang ingin aktif ke kegiatan tersebut akan merupakan kesempatan yang mestinya segera dimanfaatkan. Kebijakan, strategi dan taktik yang dipaparkan oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata  baru-baru ini, menggunakan bahasa bisnis praktis pada bagian-bagian yang perlu,sehingga tampak semakin mendekatkan link and match antara dua pihak. Yaitu antara pemerintah dan pelaku bisnis. Selama ini, disitu terasa adanya gap, bagaimana agar kebijakan dan strategi pemerintah yang sudah ‘berbahasa bisnis’ itu, sungguh menjadi workable dan applicable dalam aktifitas bisnis pariwisata.   Misalnya dari pengalaman VIY2008. Pada brosure yang diedarkan secara luas, – kendati sebenarnya agak terlambat karena baru diedarkan akhir Desember 2007 dan awal 2008 -, tercantum 140 daftar events yang dipasarkan. Tetapi tampaknya hanya sekitar separuh di ataranya yang terlaksana, yang berkaitan langsung untuk mendukung keberhasilan VIY2008. Lainnya ada yang memang tidak dilaksanakan, ada yang tidak pasti jadualnya, ada yang sesungguhnya tidak layak jual untuk dibawa ke pasar luar negerii, dst. Bisa dimaklumi, karena daftar tersebut sebagian bersumber dari dan menampung serta memasukkan  inputs dari instansi atau pihak ketiga lain di daerah-daerah, yang kemudian ternyata tidak workable dan applicable.. Kita menangkap kemungkinan fenomena baru tahun 2009, dengan mengutip kalimat ringkas Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar  pada TTIspot ini di satu kesempatan: “ya, sekarang kita rencanakan secara terbuka, transparan saja.”   Kita catat perlu...

Read More

Prospek Kegiatan dan bisnis Pariwisata 2009

Sapta Nirwandar Pariwisata Indonesia tahun 2009 diproyeksi akan mendatangkan wisman delapan juta, yang jumlahnya dirinci dengan target-target sbb.: Dari Singapura 1.850.000 ; Malaysia 1.200.000, Eropa 700.000, Jepang 680.000, Australia 550.000, China 520.000, Korea Selatan 480.000, Taiwan 310.000, India 210.000, Amerika 200.000, Filipina 150.000, Timur Tengah 100.000 dan Pasar Lainnya 1.025.000.    Dirjen Pemasaran Pariwisata, Sapta Nirwandar, memaparkan prospek itu secara khusus di hadapan para pelaku industri pariwisata dan pimpinan instansi pariwisata dari daerah-daerah, minggu lalu di Jakarta. Pemaparan tersebut dilanjutkan dengan pembahasan kelompok, yang dibagi atas kelompok-kelompok menurut pasar utama pariwisata Indonesia. Pokoknya, dalam hal ini pemerintah meminta masukan langsung dan terbuka dari masyarakat professional. Yaitu masing-masing kelompok untuk pasar Jepang, Korea, ASEAN, Asia Timur, Eropa, Australia, Amerika, Timur Tengah.    Dilihat dari sudut faktor aksesibilitas, tahun 2009 kegiatan pariwisata Indonesia akan didukung oleh adanya penambahan rute, kapasitas dan frekuensi penerbangan regional yang dilakukan oleh beberapa maskapai sejak semester kedua tahun 2008. Yaitu Garuda Indonesia, AirAsia, Singapore Airlines, Korean Air, Viva Macao, Mahan Air, Aeroflot, Virgin Blue, Jet Air dan Pacific Blue.    Dilihat dari sudut produk, yang merupakan faktor atraksi dalam paduan produk industri pariwisata, memang tampak masih dalam proses mencari tambahan produk yang layak jual. Namun proses yang dilaksanakan bersama para pelaku bisnis itu sendiri, diharapkan akan menghasilkan produk yang realistis, tajam bisa memasuki pasar wisman di mancanegara, dan cukup waktu untuk memasarkannya.    Saya (Arifin Hutabarat) pada...

Read More

VIY2008, Count Down

 Target tinggi tujuh juta wisman selama VIY2008 kian pasti tak akan dapat terealisasi, ini terkesan diakui oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar, walaupun tidak dinyatakan secara ekspilisit. Minggu lalu Dirjen Pemasaran Pariwisata memberikan pemaparan komprehensif pada kalangan industri pariwisata, sekaligus mengenai dua sisi yang dilekatkan satu sama lain. Satu sisi dipaparkannya kinerja pariwisata tahun 2008, satu sisi lain dipaparkannya rencana tahun 2009. Untuk tahun 2008 ini diperkenalkannya apa yang disebut seperti dalam pertandingan sepakbola, injury time, periode Oktober-Desember, untuk melakukan upaya-upaya ekstra agar target 7 juta tetap dapat dicapai.    Januari-Juli 2008 kedatangan wisman dicatat oleh Biro Pusat Statistik berjumlah 3469968. Maka untuk periode Agustus-Desember 2008 diperlukan sejumlah 3530032 wisman, sedangkan pada periode sama tahun lalu statistik menunjukkan jumlah 2,4 juta. Untuk mencapai jumlah 7 juta, konsekuensinya ialah diperlukan peningkatan sebesar rata-rata 47 persen selama Agustus-Desember 2008. Sementara itu, selama periode Januari-Juli 2008 dibandingkan periode sama tahun 2007, tingkat pertumbuhannya rata-rata hanyalah 11.7 persen. Jika diasumsikan semua faktor lain yang memengaruhi akan sama, maka tentulah tak dapat diharapkan tingkat pertumbuhan selama lima bulan terakhir 2008, termasuk periode injury time dimaksudkan tadi, akan bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisman hingga mencapai 7 juta.    Pada pemaparan terbuka dan simpatik yang disampaikan oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata, dihadapan para industri pariwisata di berbagai kegiatan, kemudian diberi kesempatan pada wakil-wakil pelaku industri pariwisata untuk berdiskusi dan mengajukan saran pendapat, termasuk kegiatan apa yang dipandang...

Read More

Menggarap Pasar Jepang dengan Events

   Minggu lalu, kesokan harinya setelah acara pemaparan dari Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar, seperti dilaporkan di atas tadi, saya mengirimkan surat untuk menjelaskan kepada Dirjen Pemasaran Pariwisata. Mengapa Bali Marathon? Selain untuk pertanyaan ini, yang perlu diterangkan juga adalah Bagaimana dengan cara dan kualitas penyelenggaraannya?    Saya maksudkan event Bali Marathon adalah yang sama kualitas pengorganisasian seperti yang pernah saya laksanakan dengan nama Nittoh Bali Marathon, setiap bulan Oktober setiap tahun sejak 1987 sampai 1999. Jadi selama sepuluh tahun berturut-turut, periode 1987-1997 saya laksanakan bekerjasama dan disponsori oleh biro iklan dan produk minuman olahraga dan Garuda Indonesia di Jepang. Adapun periode 1998-1999 kami laksanakan bekerjasama dengan sponsor utama oleh Grup Tuban di Bali. Grup Tuban merupakan kelompok hotel yang berada di sepanjang jalan Kartika Plaza, di bagian selatan pantai Kuta.    Para hoteliers dan tour operators dls di Bali maupun di Jepang, menikmati betapa jumlah peserta dan penggembira pada setiap event tsb selalu meningkat, datang antara 600 sampai 1200 wisman dari Jepang. Belakangan mulai diikuti wisman dari Eropa dan Australia, setelah kami mulai mempromosikan ke kawasan tsb.    Dampak strategisnya, disamping mendatangkan paying passenger dan paying tourists, dengan kata lain merupakan direct sales, rangkaian kegiatan itu memperoleh peluang layak muat secara beruntun di media massa di Jepang sesuai sasaran publik. Jadi, dengan konsep Public Relations melalui pelaksanaan event, kita bisa mendapat kesempatan membangun persepsi publik secara berkesinambungan. Setiap...

Read More

Humas Menanam benih, Promosi Menuai panen

Turman Siagian Kata-kata yang sudah lama, tajam menggoreskan anjuran ini, datang dari Daniel Schorr seorang veteran newsman di AS: “in this communications society, if you don’t exist in the media, for all practical purposes you don’t exist”. Di pariwisata, sejak tahap konsepsi sampai pelaksanaan technicalities, pemunculan di media massa menjadi keharusan, karena sebagian cukup besar dari kegiatan pariwisata mengandung kebutuhan untuk ‘diketahui oleh masyarakat’.    Apalagi ketika pariwisata didekati dari kacamata bisnis, si pakar lain bidang pemasaran Jack Trout mengingatkan satu pilihan: PR plants the seed. Advertising harvests the crop. Jadi mestinya, menurut pandangan ini, Humas bertugas menyebar menanam benih, Promosi bertugas menuai panennya.    Bagaimana melihat peran PR atau Bagian Hubungan Masyarakat di departemen pariwisata (dan kebudayaan) ?       Secara organisasi di Depbudpar diadakan direktorat Pusat Informasi dan Humas. Bagian Humas dipimpin oleh Turman Siagian.    Selama sembilan bulan Januari-September 2008, berdasarkan hasil media monitoring terhadap 21 media cetak, yang diambil sebagai acuan, telah diperoleh peningkatan pemuatan artikel dan berita tentang Kebudayaan dan Pariwisata sebesar 22% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007. Itu mencakup  media cetak dan elektronik    Turman Siagian bercerita pada TTIspot ini, bahwa di samping itu, kualitas pemuatan dan penempatan rubrikasi pemberitaan oleh media tentang  Kebudayaan dan Pariwisata relative menunjukkan perbaikan pada  tahun 2008.    Bicara pelaksanaana tugas-tugas Humas sebagai “PR”, tentu ada fokus pada kesuksesan VIY 2008, yang dilaksanakan melalui Publisitas dan...

Read More

Google Translate

EnglishFrenchGermanIndonesianItalian

Editor


Arifin Hutabarat


To send info, story, or commercial from you for ITN, please click here

Partner




Subscribe to our mailing list

Ikuti info berita terbaru dari kami dengan cara memasukkan alamat Email anda di bawah ini :
* indicates required
Email Format

Newsletter Pariwisata

Prepare Your Travel

Like Us on facebook