ASITA akan Melancarkan Produk Wisata 18 Destinasi tahun 2018 utk Wisman; Serba 18 dan Produk Khusus Low Season!

Rusmiati, sekjen ASITA / sekjen GIPI.

N. Rusmiati, sekjen ASITA / sekjen GIPI.

Anggota ASITA, tour & travel agent, akan membuat program “Visit Wonderful Indonesia” di tahun 2018. Ada gimik pemasarannya, yaitu menciptakan, dan mempromosikan, menjual paket-paket wisata untuk menarik kunjungan wisman dengan judul “Visit Wonderful Indonesia”, menjual 18 destinasi selama tahun 2018. Di samping itu, juga akan menjual paket khusus untuk periode low season di tahun 2018.

Itu dijelaskan dan ditegaskan oleh N. Rusmiati, Sekjen ASITA, dia juga Sekjen GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia). GIPI bersama Kementerian Pariwisata menyelenggarakan FGD yang ketiga, temanya “Mendorong Pengembangan Produk Wisata Sejalan dengan Upaya Percepatan Konektivitas Udara” di Jakarta pada 28/8/2017. Di tengah diskusi itu Rusmiati menjelaskan “gerak baru” dari organisasi ASITA bersama anggotanya terkait dengan kenyataan terjadinya  percepatan dalam penambahan kapasitas penerbangan langsung luar negeri dewasa ini.

Didien Junaedy, Judi Rifajantoro, RoberWaloni, pada FGD GIPI Kemenpar III di Jakarta 28/8/2017.(Foto:GIPI)

Didien Junaedy, Judi Rifajantoro, Robert Waloni, (kiri-kanan) pada FGD GIPI Kemenpar III di Jakarta 28/8/2017.(Foto:GIPI)

Pada diskusi itu narasumbernya Dadang Rizki Ratman, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Kemenpar, membawakan “Pengembangan Usaha Pariwisata”. Robert Daniel Waloni , Tenaga Ahli Menteri Bidang Aksesibilitas Udara sebagai narasumber menyampaikan “Upaya Percepatan Konektifitas Udara dalam Mendukung Pengembangan Produk Wisata”, dan Judi Rifajantoro, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Infrastruktur Pariwisata, menguraikan “Upaya Percepatan Konektifitas Udara dalam Mendukung Pengembangan Produk Wisata”. Didien Junaedy, Ketua Umum GIPI memoderatori, dihadiri sekitar 30 orang dari berbagai unsur: antara lain maskapai penerbangan, pengelola bandara, asosiasi lainnya pelaku bisnis pariwisata, media, dll.

Dari pertemuan itu ditemukan beberapa hal yang pasti memerlukan dukungan dari kalangan pariwisata di daerah destinasi, untuk memanfaatkan kapasitas penerbangan luar negeri langsung ke destinasi. Itu diungkapkan oleh Judi Rifajantoro, yaitu:

  1. Kesiapan Atraksi dan paket-paket wisata (biasanya charter flight akan membawa wisman dengan paket tour minimal 3 malam).
  2. Kesiapan hotel / akomodasi.
  3. Kesiapan sarana / prasarana transportasi.
  4. Kesiapan tenaga pemandu wisata.
  5. Kesiapan kuliner / restoran.
  6. Kesiapan masyarakat (keramahan).
  7. Kesiapan infrastruktur pariwisata lainnya.
  8. Stimulus dari pemerintah daerah: bisa berupa free performance, diskon untuk entry fee pada outlet atraksi tertentu, atau bila memungkinkan dukungan keuangan, dst.

Dibicarakan pula di situ, bahwa sebenarnya, strategi hingga taktik yang didiskusikan itu, khususnya dalam rangka meproduktifkan kapasitas penerbangan luar ngeri, — sebagai konsep sudah sempurna. Namun pertanyaannya ialah: How to operate, to implement, to make it happen? Who will initiate, coordinate, and so on…? Who is doing what…? Jawabannya antara lain muncul, akan terpulang pada kalangan di daerah destinasi, tentu saja termasuk para pimpinan pemerintahan daerah alias CEO daerah destinasi. Lebih spesifik lagi, pada CEO dan pelaku pariwisata di daerah yang daerahnya telah dan akan dilayani oleh operasi penerbangan langsung dari luar negeri.

Di tengah suasana itu, Sekjen ASITA Rusmiati mengutarakan program “serba 18” seperti disebutkan di atas. Tujuannya tentu mendukung pencapaian target-target jumlah kunjungan wisman tahun 2018 hingga tahun 2019.***

Leave a Reply

Your email address will not be published.