Ilustrasi. Indah dan sejuknya melihat Pura Ulun Danuu di Danau Beratan, Bali.(Foto:YD)

Jakarta, (ITN-IndonesiaTuristNews): Membaca berita ini membawa pikiran kita pada pertimbangan kian kuat untuk menomorsatukan pengembangan pariwisata domestik kita, dan pasar ASEAN berpotensi menjadi secara de fakto masuk dalam bisnis wisata domestik Indonesia. Mirip seperti tiap negara anggota Uni Eropa telah menjadi wisata domestiknya Uni Eropa. Betapa tidak. Mari mengikuti fakta-akta berikut ini.  Pasar ASEAN terutama dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam perlu segera digarap untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh wisatawan Cina sementara waktu. Kemudian, pasar India, wisatawan domestik, dan Filipina. Juga pasar dari tetangga terdekat lainnya, Australia.

Realitas sepanjang satu dekade terakhir Cina merupakan pengekspor wisatawan terbesar di dunia. Situasi yang tengah dihadapi Negeri Tirai Bambu saat ini mau tidak mau akan mempengaruhi pariwisata secara global. Jumlah kunjungan dan pendapatan yang dibawa oleh outbound dari Cina memang menurun. Dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia saja.

Kota-kota besar utama di Indonesia relatif sudah terhubung dengan penerbangan langsung dari dan ke Kuala Lumpur dan Singapura. Beberapa kota besar utama lainnya terhubung dengan Bangkok dan beberapa kota lain di negara-negara ASEAN. Jakarta dan Denpasar terkoneksi langsung dengan hub-hub utama di Timur Tengah yakni Dubai, Abu Dhabi dan Doha.

Kuala Lumpur dan Singapura sudah dimanfaatkan sebagai tourism hub pariwisata Indonesia sejak dua tahun terakhir. Menghadapi situasi penyebaran virus corona yang telah membuat perjalanan terdisrupsi sementara waktu, kita pun mau tidak mau melihat pada rute-rute dan sumber-sumber alternatif lainnya.

Guna mengisi kekosongan kunjungan wisatawan dari Cina, mendorong mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) dari kawasan ASEAN merupakan pilihan paling cepat bagi pariwisata Indonesia. Selain itu, diperlukan peninjauan kembali terhadap program-program pemasaran dan penjualan produk-produk perjalanan ke Indonesia dengan memanfaatkan tourism hub untuk menjaring wisman yang ada di Kuala Lumpur dan Singapura yang pernah dilakukan sebelumnya. Sehingga dari situ bisa sesegera mungkin dilakukan perbaikan atau pembaharuan untuk diaplikasikan di tempat yang sama, atau bahkan menambah hubnya.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan jika memanfaatkan tourism hub untuk mendorong kunjungan wisman dalam jangka pendek, produk-produk perjalanan ke Indonesia harus dibuat berbeda dan dikemas sangat menarik. Dan ini niscaya berkaitan dengan kemampuan mengemas produk wisata domestik Dengan demikian bisa membantu mitra-mitra industri pariwisata di tourism hub mendorong penjualan paket bundling multidestinasi. Bagaimanapun, negara-negara yang dijadikan sebagai tourism hub, khususnya di kawasan Asia Tenggara, punya banyak kemiripan dengan Indonesia.

Denpasar dan Jogja tampaknya jadi pilihan paling realistis untuk meyakinkan wisman mesti berkunjung ke Indonesia di saat-saat seperti ini, dari sudut pandang operator tur-operator tur inbound. Tarif tiket pesawat ke Bali dari kota-kota hub utama di Asia Tenggara di Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok diharapkan bisa bersaing dengan tarif tiket ke berbagai destinasi lain di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan Jogja, di mana New Yogyakarta International Airport (NYIA) akan segera beroperasi penuh pada bulan Maret 2020, menginginkan ada tambahan penerbangan langsung baru dari Bangkok, Thailand dan Vietnam.

Ilustrasi. Perayaan Waisyak di Candi Borobudur,atraksi yang perlu terus ditingkatkan pengemasan produknya dan promosinya ke negara-negara di ASEAN.  Jangan lupa, ke situs/candi Angkor Wat di Kamboja berkunjung sekitar 2 juta wisatawan  per tahun dengan harga tiket masuk per orang USD 35.-. Candi Borobudur dikabarkan per tahun dikunjungi sekitar 250000 wisman.(Foto:Kemenpar)

Selain wisatawan dari Malaysia, Thailand, dan Singapura, India merupakan sumber pasar inbound lainnya yang terus tumbuh cukup pesat. Wisatawan dari negara ini tidak sedikit yang memanfaatkan penerbangan berbiaya terjangkau dan transit di ketiga kota hub utama di Asia Tenggara tersebut untuk menuju Indonesia. Lalu ada wisatawan dari Vietnam dan Filipina yang jumlahnya cenderung terus naik.

Di tengah situasi aktivitas perjalanan yang sedikit melamban di awal tahun ini, Philippine Airlines baru saja meluncurkan penerbangan langsung baru dari Davao ke Manado di Manila. Menurut rencana, penerbangan langsung itu mulai beroperasi Maret mendatang. Maskapai penerbangan nasional Filipina tersebut bertahan cukup lama melayani rute Manila-Jakarta dengan frekuensi 10 kali dalam seminggu. Konektivitas langsung antara Indonesia dan Filipina saat ini dilayani dua maskapai yakni Philippine Airlines dan Cebu Pacific serta maskapai-maskapai penerbangan lain melalui hub Singapura dan Kuala Lumpur.

Ketut Ardana, Ketua DPD ASITA Bali, melihat, pertama, pasar ASEAN terutama dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang perlu segera digarap untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh wisatawan Cina sementara waktu ini. Kemudian, pasar India, wisatawan domestik, dan Filipina.

“Pasar-pasar tersebut bisa kita dorong dan didukung dengan air fare ticket yang bagus, ada diskon, ada harga khusus, sehingga membuat perjalanan ke Bali tetap menarik,” ujar Ardana.

Menurut Bagus Ardi Baliantoro, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah D.I. Yogyakarta, secara umum rute tradisional dari Eropa tetap dipertahankan, bisa ditambah akan lebih baik lagi.

“Jadikan Jogja sebagi flight hub internasional dan domestik karena letak geografisnya hampir di tengah Indonesia dan sebentar lagi NYIA sudah resmi beroperasi,” kata Bagus.

Ide rute-rute baru dari Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY ini patut dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan pariwisata dan penerbangan. Rute-rutenya yakni Thailand-Jogja-Bali, Vietnam-Jogja-Bali, dan Kuala Lumpur-Jogja-Bali. Dan itu praktiss akan langsung komplementer dengan pengembanan wisata domestik.*** (Yun Damayanti)