Sudiyono,Kepala Balai Besar TN Komodo.(Foto:YD)

Sudiyono,Kepala Balai Besar TN Komodo.(Foto:YD)

Labuan Bajo, (ITN-IndonesiaTouristNews): Jumlah pengunjung ke Taman Nasional Komodo (TNK) sudah mencapai 98.305 orang tahun ini sampai dengan bulan September 2017. Sekitar 70%-80% pengunjung ialah wisatawan asing. Jumlah kunjungan tahun ini akan melampaui capaian tahun lalu. Tetapi timbul pertanyaan atau kepedulian, seberapa besar kapasitas daya dukung TNK mengakomodasi kunjungan wisatawan yang terus meningkat dan bagaimana manajemen taman nasional menghadapinya?

Balai Besar Taman Nasional Komodo belum merilis seberapa besar daya dukung taman nasional mengakomodasi jumlah pengunjung. Masih dalam tahap pemantauan dan review. Pantauan dan kajian sedang dan akan terus dilakukan terutama terhadap dampaknya pada komodo, daya pikat utama.

“Kapasitas daya dukung (carrying capacity) bisa dikelola. Jumlah pengunjung banyak belum tentu merusak. Asalkan, para pengunjung selama melakukan aktivitasnya peduli dan ramah terhadap lingkungan serta mengikuti peraturan-peraturan di dalam TNK. Kalaupun jumlah pengunjung lebih sedikit tetapi jika mereka melakukan aktivitas tanpa peduli dan ramah lingkungan, menginjak-injak karang misalnya, itu bisa membuat kerusakan masif,” ujar Kepala Balai Besar Taman Nasional Komodo Ir. Sudiyono, M.Si.

Zona pariwisata darat tempat wisatawan melihat komodo seluas 824 hektar. Zona seluas itu berada di Loh Liang, Pulau Komodo dan Loh Buaya, Pulau Rinca. Ruang yang telah dimanfaatkan di dalam zona itu berupa trek dan luasnya relatif kecil.

Jalur trekking di TNK.Ini trek di Loh Liang,Pulau Komodo.(Foto:YD)

Jalur trekking di TNK.Ini trek di Loh Liang,Pulau Komodo.(Foto:YD)

Pengunjung dapat memilih satu dari 8 trek yang disediakan oleh pengelola TNK untuk melihat komodo. Kedelapan trek itu dibagi ke dalam soft trek, medium trek, long trek dan adventure trek. Trek yang dimaksud berupa jalan setapak selebar sekitar 2 meter. Pengunjung tidak diperbolehkan keluar dari trek tanpa dipandu oleh naturalist guide (ranger).

Selama ini pengunjung terkosentrasi di titik-titik dimana prasarana dan sarana melihat komodo telah tersedia misalnya di Loh Liang dan Loh Buaya. Balai Besar TNK berencana mengembangkan memperluas pemanfaatan di zona pariwisata yang belum optimal. Di antaranya, dengan memperluas rute trek. Yang dulu belum dilewati dengan perluasan trek maka pengunjung bisa melewatinya. Ini sebagai upaya memecah konsentrasi sekaligus mendistribusikan pengunjung.

Lebih dari setengah luas total TNK adalah laut. Kapal merupakan transportasi utama mengunjungi TNK. Sampai dengan saat ini, manajemen TNK belum mempunyai peta laut terutama terkait kedalaman.

“Kami memerlukan peta kedalaman laut. Dengan adanya peta itu paling tidak bisa mengurangi kemungkinan kapal kandas dan meminimalisasikan buang jangkar di lokasi terumbu karang,” kata Sudiyono.

Tengah dibangun jalur trail berupa tangga di bagian selatan di Pulau Padar.Anak tangga dibuat ramah pengunjung.Jalur trail mengkombinasikan material kayu dan batu kali.Jalur menghubungkan pantai hingga ke puncak bukit.(Foto:YD)

Tengah dibangun jalur trail berupa tangga di bagian selatan di Pulau Padar.Anak tangga dibuat ramah pengunjung.Jalur trail mengkombinasikan material kayu dan batu kali.Jalur menghubungkan pantai hingga ke puncak bukit.(Foto:YD)

Bersama mitranya, Balai Besar TNK tengah mengembangkan aplikasi peta TNK pada Android. Peta itu nantinya akan berupa carrying map sehingga operator kapal dan pengunjung bisa mengetahui lokasi keberadaannya di dalam kawasan taman nasional. Di layar ponsel cerdas dapat melihat lingkaran kecil di dalam peta TNK yang berjalan mengikuti pergerakan kita. Tidak beda dengan ketika mencari tahu posisi transportasi daring yang kita pesan. Pengembangan aplikasi peta TNK ditargetkan selesai pada 2018.

Sampah yang kasat mata dilihat pengunjung baik saat berada di atas daratan pulau maupun ketika sedang mengarungi perairan berasal dari berbagai penjuru. Bisa datang dari daratan sebab “peduli sampah” belum membudaya pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Sampah-sampah dibuang di dalam saluran-saluran air termasuk sungai. Ketika musim hujan tiba sampah-sampah di sungai-sungai terbawa hanyut hingga jauh ke laut. Sampah-sampah itu juga ada yang dibuang dari kapal-kapal dan berasal dari pengunjung sendiri.

Setiap pagi di lokasi-lokasi wisata para naturalist guide, pedagang dan penjual suvenir mengumpulkan sampah-sampah yang bertebaran di pantai. Pembersihan di lokasi-lokasi wisata juga dilakukan secara rutin oleh manajemen taman nasional bersama dengan mitra dan pihak-pihak lain yang peduli. Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Tidak ada tempat pengelolaan sampah akhir di Labuan Bajo. Ada rencana membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di kota pintu masuk ke TNK pada tahun 2018.

Balai Besar TNK dengan WWF dan Dive Operator Community Komodo (DOCK) terus mempertajam kemitraan. Kemitraan yang diusahakan antara pemerintah (Balai Besar TNK) dengan lembaga swadaya masyarakat seperti WWF, dan pelaku bisnis adalah dalam hal pelayanan informasi mengenai TNK di bawah satu atap, mengembangkan potensi-potensi di dalam kawasan taman nasional, serta memperkuat pengawasan dalam upaya konservasi dan pengawetan TNK.

Natralist Guide atau ranger di TNK mengenakan tanda pengenal.Diantaranya dengan seragam seperti ini.Rata-rata menguasai 1 bahasa asing,bahasa Iggris.(Foto:YD).

Naturalist Guide atau ranger di TNK mengenakan tanda pengenal.Di antaranya dengan seragam seperti ini.Rata-rata menguasai 1 bahasa asing,bahasa Iggris.(Foto:YD).

DOCK adalah suatu perkumpulan terdiri dari beberapa dive operator yang berbasis di Labuan Bajo dan beroperasi di dalam kawasan TNK. Dengan adanya organisasi semacam itu mempermudah komunikasi antara manajemen taman nasional dengan pelaku industri pariwisata untuk bersama-sama mengawasi keamanan dan keselamatan ekosistem di dalam kawasan serta mempertahankan kelestarian taman nasional.

“Kapal dan operator-operator yang beroperasi di dalam kawasan TNK ada yang berbasis di sini, punya kantor di sini, tetapi tidak sedikit yang berasal dari luar seperti dari Bali, dari Papua. Dengan adanya organisasi atau perkumpulan itu akan memudahkan kami berkomunikasi, mengawasi kawasan taman nasional,” Sudiyono menambahkan.

Kepala Balai Besar TNK menghimbau kepada para pelaku pariwisata yang beroperasi di dalam kawasan taman nasional maupun semua pengunjung agar bersama-sama peduli terhadap lingkungan dan alam selama beraktivitas di dalam TNK.

Kelestarian suatu taman nasional sebagai daya tarik wisata alam yang unik tidak cukup dengan membayar tiket masuk dan retribusi. Kesadaran dan kepedulian dari para operator – mulai dari manajemen hingga staf operasional di lapangan– dan pengunjung sangat dibutuhkan.

Sampai dengan saat ini masuk ke taman-taman nasional di Indonesia masih dilakukan secara manual dan sistem pembayaran tunai. Ada taman nasional mulai memberlakukan pendaftaran online untuk masuk. Tetapi ini belum berlaku di TNK. Karena belum ada peraturan pemerintahnya.

Khususnya di TNK, semua pengunjung wajib didampingi oleh pemandu (naturalist guide/ranger). Seorang pemandu maksimal memandu 5 orang pengunjung. Jumlah pemandu di TNK secara keseluruhan ada 57 orang. Semuanya sudah disertifikasi.*** (Yun Damayanti)