Apa yang Spesial dari Pulau Sumba, Lokasi Resor Hotel Terbaik Dunia? Bagi yang Kreatif untuk Pariwisata, Pergilah Ke sana…

Ini di bagian timur Pulau Sumba.(Foto:YD)

Ini di bagian timur Pulau Sumba.(Foto:YD)

Dari udara beberapa saat sebelum mendarat, hamparan savana dan terik sinar matahari di daratan Pulau Sumba memberi kesan gersang, panas dan tidak potensial sebagai tujuan pelesir. Namun semakin menjauh dari bandara yang masih sederhana di pulau itu, tampaklah nyata apa yang dgambarkan oleh penyair  Taufik Ismail sejak empat dekade lalu. Semakin ke dalam, saya menyaksikan kegersangan di permukaan bukan berarti tanah Sumba tidak subur. Di sini tampak kuburan dibuat dari  batu dan atap-atap rumah menjulang di kampung-kampung menandakan tradisi dan adat leluhur masih dipegang teguh.

Saya melihat seorang anak perempuan berusia antara 8-10 tahun sedang mengambil air dari satu saluran pengairan pada sore hari. Air yang tampak jernih dan mengalir deras itu ditampungnya dengan dua ember plastik. Ternyata itu setiap hari dilakukannya pagi dan sore. Penampungan dan pengaliran air bersih belum sampai ke dusun sang gadis cilik itu. Di kampung lain yang telah mempunyai penampungan dan pengaliran air bersih, air pun digunakan sehemat-hematnya.

Kapas yang hampir siap dipetik yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga di Desa Lambanapu,Sumba Timur.(Foto:YD)

Kapas yang hampir siap dipetik yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga di Desa Lambanapu,Sumba Timur. (Foto:YD)

Di Desa bernama Lambanapu, anggota kelompok penenun (kelompok itu bernama Paluanda Lama Hamu) menerangkan, biji kapas dan indigo dilempar saja ke pekarangan di sekitar rumah. Beberapa bulan kemudian setelah tunas muncul baru dirawat dengan disirami sekali saja sehari. Pohon kapas bahan baku benang dan indigo bahan baku pewarna biru- warna dominan dalam kain tenun sumba dan sawu- dan tanaman-tanaman lain yang menjadi bahan baku pewarna alam tumbuh subur di sekitar pekarangan rumah-rumah warga dan di pematang yang membatasi pekarangan dan sawah.

Tanaman padi dapat tumbuh subur dibantu pengairan. Sumber air jauh sekali dari permukaan tanah sehingga air menjadi tantangan utama yang dihadapi masyarakat. Cuaca panas dan kering amat disukai tanaman kapas dan indigo. Sayang, budidayanya masih terbatas sehingga sebagian benang dan pewarna untuk menenun mesti dibeli dan sudah buatan pabrik.

Pasir pantainya halus dan berwarna putih kekuningan. Di bagian selatan pulau ini dinding-dinding tebing bagai kanvas kosong bagi angin dan air laut untuk melukis karya alam. Di beberapa titik punya ombak yang digandrungi peselancar, diantaranya tidak jauh dari Nihiwatu. Tahu Nihiwatu, bukan? Resornya terpilih sebagai yang terbaik di dunia dua tahun berturut-turut. Di bagian timurnya tampak pohon-pohon mangrove pendek yang unik bentuknya menjaga batu pantai dari abrasi.

Mangrove unik di pantai sekitar 1 jam dari Desa Pau,Sumba Timur.(Foto:YD)

Mangrove unik di pantai sekitar 1 jam dari Desa Pau,Sumba Timur. (Foto:YD)

Kain tenun. Keahlian menenun di sini diperkirakan sudah sejak kerajaan pertama di Nusa Tenggara Timur. Kerajaan pertama itu diperkirakan 3500 tahun silam. Kemampuan menenun diturunkan dari generasi ke generasi sampai sekarang. Tanpa desain, motif-motifnya langsung diaplikasikan pada benang-benang yang diikat kemudian ditenun. Setiap suku di NTT masing-masing mempunyai keunikan corak dan motif. Begitupun dengan cara menenunnya. Di Sumba Timur sendiri, ada perbedaan antara motif yang berkembang dan cara menenun seperti beda di Desa Lambanapu dengan di Desa Pau.

Kehidupan senja di Mauliru,Sumba Timur.(Foto:YD)

Kehidupan senja di Mauliru,Sumba Timur.(Foto:YD)

Kecuali jalan-jalan raya yang mulai mulus beraspal, yang digambarkan oleh Taufik Ismail dalam sajak “Beri Daku Sumba” yang ditulisnya lebih dari 40 tahun lalu masih bisa ditemukan di Pulau Sumba sekarang. Bisa dimengerti mengapa dia menyebut rindu berkali-kali. Bubungan atap menjulang di rumah pemimpin kampung adat, langit merah di balik bayangan bukit setelah mentari tenggelam, dan pantai-pantainya yang masih sunyi akan selalu menantang traveler untuk datang kembali. Suara ketukan dari alat tenun bukan mesin dari rumah-rumah di kampung-kampung serasa berirama dengan suara mama-mama yang memanggil anak-anaknya pulang sembari mengawasi hewan-hewan ternak keluarga kembali ke kandang setelah puas merumput di padang rumput seharian.

Seperti di sebagian besar daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur, curah hujan di Pulau Sumba relatif tidak tinggi. Hanya beberapa bulan selama musim penghujan rerumputan di bukit-bukit savana menghijau. Selebihnya pohon-pohon akan meranggas dan rerumputan berubah warna. Kotoran kuda, kerbau, kambing, babi dan anjing di padang-padang rumput menjadi pupuk alami bagi rerumputan dan tanaman liar. Jauh dari polusi udara dan suara, hewan-hewan itu damai merumput dan memamahbiak di atas savana berbukit-bukit.

Limpahan sinar matahari di Sumba belum dimanfaatkan sebagai sumber energi. Di satu sisi, kondisi itu punya andil mengekspos langit malam yang indah saat cuaca cerah. Cukup berdiri menjauh dari cahaya lampu, saat kepala menengadah mata bisa langsung menatap ribuan bintang berkerlap-kerlip di atas sana. Sebelum purnama, bulan muda memerah sampai langit pun seolah ikut terbakar di balik bayang-bayang hitam bukit-bukit savana.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.