Ingat artikel “Upaya Beranjak dari Produk yang Itu-itu Saja?” (TTInews 11 Mei 2015) Melalui tampilan artikel itu di Facebook, tanggapan-tanggapan menarik datang dan mari kita ikuti. Anda pun silahkan menanggapi lebih lanjut.

   Faried Toepie mengomentari dengan menceritakan pengalamannya menyaksikan sekolah, kurang lebih 490 km dari kota Bangkok. Di situ dia selintas berdiskusi dengan Kepala Sekolahnya : …..bahwa mereka berharap kepada Pemerintah agar turis mancanegara dimampirkan ke sekolahnya, walau hanya 1 orang…..Dan, disini belajar satu murid dari Indonesia, sehingga “dikibarkan” bendera merah putih. Tak ada yang luarbiasa dari sekolah ini, kecuali keramahan dan cuap-cuap tentang sejarah Thailand dan sekolah itu sendiri tentunya……….. Memberi kesan, luarbiasa sadar wisata di masyarakat sini…

Saya menjawabnya : Apa boleh buat pak Faried, dalam hal pembangunan pedesaan pun mereka lebih dulu maju ya? Bukankah termasuk pertanian? Lalu, dikaitkan pariwisata, Thailand pernah meluncurkan OVOP…one village one product.

Datang Wuryastuti Sunario menanggapi seraya menerangkan, sebenarnya sudah ada banyak kegiatan baru seperti surfing, selam, ecotours, biking dan lain-lain ke destinasi-destinasi baru seperti raja ampat, komodo, flores, banyuwangi dan lain-lain, tapi ini semua adalah special interest, jadi menarik wisman dalam jumlah terbatas. Sedangkan Batam,Jakarta dan lainnya perlu mengidentifikasi tour baru. Bukan yang itu-itu saja

Ini catatan dari Achyar Yusuf, bahwa problem kita, kenyataan Bali masih sebagai favorit wisman, walau kita sudah maksimal dengan (promosi) Bali beyond. Persoalan political will pemimpin daerah yang sulit fokus walau daya tarik mereka tinggi serta ketidak sabaran tuan rumahnya yang segera mau ada wisatawan banyak, dan  terus bisa (terjadi) dampak ganda berlaku, padahal pariwisata perlu ketelatenan dan kesabaran dalam menanganinya, serta ada ikon kuat yang bisa ditonjolkan dan berbeda (dibanding)  tempat lainnya. Saya teringat menggerakkan Kepri era 1994 dari 100 ribu menjadi 2 juta lebih wisman berkunjung ( per tahun), dulu tahun 2000 an, dengan fokus makanan laut, hiburan night life yang nyaman dan ……, sukses.

 Wuryastuti Sunario menambahkan lagi, perlu disadari, Batam hanya bisa jadi cross border weekend resort saja. Sedang yang potensial untuk menjadi international destination itu Bintan. Kalau airport internasionalnya siap beroperasi maka Bintan bisa menjadi destination dan hub.

   Untuk itu saya menanggapi, berangsur tampaknya Kepri is getting more aware… mau mengembangkan tourist spot di Batam, Bintan dan Kepri-nya…menurut berita terakhir,… Lagi pula, cross border tourism juga bisnis bagus di pariwisata…

Soelaiman Wiriaatmadja menanggapi, Tour Operator di daerah dan juga pemda-nya perlu mempererat kolaborasi antar daerah tetangga untuk “memasarkan” (dalam arti luas, mulai dari observasi produk yang dapat dijual bersama – product development – diferensiasi/deversifikasi dst) dan saling  menawarkan destinasi “tetangga” sebagai “hinterland” dalam options (pilihan), seperti halnya yang dilakukan operator dan pemda DKI Jakarta yang menawarkan Bogor, Puncak, Bandung, – sebagai option . Bahkan Singapura menawarkan Indonesia sebagai hinterland dalam option mereka ~ dan hasilnya? Kita mengakui, inbound flow ke SIN selalu meningkat.

Terakhir dalam catatan yang masuk melalui Facebook saya, datang dari Ita Pattiradjawane, singkat padat:  Kalau comments dari tours operator Belanda (dalam bahasaa Belanda) : “ze zijn al uit gekeken in Indonesia”…Kira-kira:  sudah jenuh, sudah cukup lah…

Justru ini mestinya mengangkat semangat kita dan saya menjawab catatannya :  Wow, it s going to be interesting to more elaborate Bu Ita Pattiradjawane

Maksud saya, bisa dijadikan penelaahan bersama, bagaimana agar mereka tak “bosan” atau “jenuh”, pasarnya tak saturated…bukankah selama ini lebih 50% wisman yang berkunjung ke destinasi Indonesia adalah para repeaters…Jadi, sungguh produk wisata kita yang kini laku di pasar tampaknya “sebagian terbesar” masih yang itu-itu saja…? ***(Arifin Hutabarat)