Esthy Reko Astuti (kiri). Tampak (kanan) diskusi sesi pertama dalam FestinFest 2017. Peserta umumnya perwakilan dinas pariwsata dari daerah.(Foto:YD)

Esthy Reko Astuti (kiri). Tampak (kanan) diskusi sesi pertama dalam FestinFest 2017. Peserta umumnya perwakilan dinas pariwsata dari daerah.(Foto:YD)

Menghadiri festival sudah mulai menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Itu dikatakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti. Satu survey dilakukan oleh sebuah perusahaan pemasaran di Indonesia terhadap wisatawan domestik beberapa waktu lalu. Hasilnya menunjukkan, 40% dari wisatawan domestik sekarang mulai melihat even-even di daerah-daerah dalam merencanakan perjalanannya.

Esthy Reko Astuty berbicara di depan sejumlah perwakilan dinas pariwisata daerah, budayawan dan para penggagas festival yang mengikuti sesi pertama diskusi pada Festival Indonesia Festival (FestinFest) 2017, Kamis (26/1).

Deputi P3N itu menerangkan lebih lanjut, ada tiga jenis festival yang diselenggarakan di Indonesia yaitu festival kultural, festival yang diadakan oleh pemerintah, dan festival terkait seni, olahraga, dan kuliner. Festival kultural adalah festival yang diselenggarakan oleh komunitas sebagai perayaan daur hidup, agama, dan perayaan. Festival yang diseleggarakan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, bertujuan untuk menguatkan jati diri dan identitas bangsa. Dan festival seni, olahraga, dan kuliner biasanya festival yang diselenggarakan untuk tujuan wisata dan pengembangan ekonomi kreatif.

Satu operator berbasis di Pulau Sumba,NTT mulai mempromosikan paket menonton even Pasola sejak bulan Januari 2017.(Foto:exploresumba.com/jelajahsumba.com)

Satu operator berbasis di Pulau Sumba,NTT mulai mempromosikan paket menonton even Pasola sejak bulan Januari 2017.(Foto:exploresumba.com/jelajahsumba.com)

Karena festival dapat menggerakkan pariwisata dan ekonomi lokal maka pemerintah dalam melaksanakan festival memilih prioritas festival yang akan diselenggarakan. Pemilihannya mengacu pada jenis-jenis festival yang diselanggarakan di Indonesia tadi.

“Festival yang dipilih adalah yang berbasis komunitas dan harus menampilkan muatan lokal atau daerahnya. Bagi daerah-daerah bisa memanfaatkan diasporanya yang bermukim di Jakarta maupun kota-kota besar lain di Indonesia untuk mempromosikan festival atau even di daerah,” ujar Esthy.

Taufik Rahzen, Ketua FestinFest 2017 menambahkan, “Festival di daerah bukan hanya untuk kepentingan branding dan penciptaan citra (image) daerah tetapi juga berfungsi sebagai story telling destinasi.”

Walaupun belum umum, sudah mulai tampak gejala pelaku industri membuat paket dengan salah satu itinerary-nya adalah mengunjungi festival.

Seorang perwakilan penyelenggara even profesional yang hadir dalam diskusi terbuka Indonesia Professional Organizers Society (IPOS) Vol.4 pada minggu lalu mengungkapkan, waktu yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan suatu even minimal antara 12 bulan sampai dengan 18 bulan. Ini agar persiapan penyelenggaraan even matang dan cukup waktu untuk mensosialisasikan dan memasarkannya. Sosialisasi dan pemasaran even sama pentingnya dengan pelaksanaan evennya itu sendiri.*** (Yun Damayanti)