padang

Wamen Parekraf Sapta Nirwandar dan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno (kiri).

Ketika di Papua Barat berlangsung Festival Raja Ampat  (FRA) 2013 di Pantai Torang Cinta Waisai, 18-21 Oktober 2013, pada hari-hari yang sama di kota Padang 81 sellers dari Indonesia dengan 83 buyers dari 28 negara bertemu di kota Padang dalam ajang TIME (Tourism Indonesia Mart and Expo). Seminggu sebelumnya, di Papua Barat  juga, kabupaten Asmat, hampir  seribu orang, wisnus dan wisman bersama masyarakat lokal menyaksikan pembukaan Festival Budaya Asmat sejak 10 Oktober 2013.

Tanggal 27 Oktober ini, even internasional The Jakarta Marathon akan diadakan di Ibukota RI di mana sekitar 10 ribu orang akan menjadi tontonan masyarakat di lintasan rute sepanjang 42,195 kilometer. Dua minggu kemudian dari sekarang, di sungai Musi, Sumatra Selatan, tanggal 6-12 November kembali ditampilkan Musi Triboatton yang melintasi empat kabupaten hingga berpusat di kota Palembang.

Kalau TIME sudah yang ke-19 kali, Festival Raja Ampat ini yang ke-3, Musi Triboatton yang ke-2, dan Jakarta Marathon tahun ini pertama kali, ditambah dengan Tour de Singkarak bulan Juni yll sebagai even ke-5 kali, even-even yang semakin membesar  menunjukkan Indonesia konsisten melaksanakan even pariwisata di mana wisatawan, terutama disasar wisman, diajak ikut terlibat atau melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat. Dari sisi minat wisatawan di dunia kini, berkembang pesat kecenderungan ingin ikut dalam sesuatu kegiatan di destinasi yang dikunjungi.

Even yang berisi kegiatan lomba olahraga, dan festival budaya di mana terbuka peluang rombongan olahragawan, seniman dan musisi hingga penggembira dan penonton, — bisa ikut aktif – itulah yang antara lain belakangan ini disebut sebagai “experience tourism”.  Termasuklah paket-paket wisata yang mengajak wisatawan belajar memasak, atau menenun, dan seterusnya. Jadi, ada segmen konsumen turis yang tidak hanya didominasi lagi oleh minat berlibur semata-mata.

Begitulah jika ditambahkan dengan lumayan banyak festival yang diselenggarakan oleh kabupaten dan provinsi, yang selama dimotori terlebih dulu oleh Kemenparekraf. Tak semua bisa langsung mendatangkan wisman, memang, namun dimulai dengan mengharapkan wisatawan lokal dan nusantara. Menyelenggarakan festival membuka pembelajaran pula bagi insan-insan pariwisata dan “event organizer” di daerah agar meningkatkan dari tahun ke tahun akan “kualitas” aspek-aspek pendukung. Antara lain kualitas pengorganisasian untuk menuju ke taraf internasional, dan, tentu saja peningkatan kualitas sarana dan prasarana yang berkaitan.

Beberapa even bahkan sudah “memperlihatkan” hasil. Jumlah pengunjung wisnus dan wisman atau peserta pada even-even yang digelar dan dipromosikan ke mancanegara, dari tahun ke tahun menaik. Yang menarik adalah pemahaman, bahwa even yang “sukses” dan “menarik” dan semakin memenuhi “standar internasional”, akan menjadi “show” yang tampil di media-media di luar negeri. Dan itulah yang menjadi esensi dari suatu even, merupakan “mercu suar promosi” yang menebarkan sinar penarik perhatian masyarakat dunia. Calon wisman kemudian melirik ke destinasi yang dipromosikan, lalu terjadi proses “from awareness to desire to visit”. Maka itu memang perlu konsistensi dan berkesinambungan.**