TTI news analysis thailand 23082014

Keteraturan, kebersihan, kerapihan dan kenyamanan tampak di obyek wisata Thailand. (Foto: Ist.)

Thailand lebih pas untuk bench marking bagi Indonesia ketimbang Malaysia atau Singapura. Bagaimana Thailand hendak mempercepat pemulihan pariwisatanya setelah dihempas oleh krisis politik yang membuat wisman menjauh darinya? Otoritas Pariwisata Thailand mengalihkan haluan dari biasanya pasang target jumlah wisman berkunjung, kini bergeser ke statistik pengeluaran uang wisman saat berkunjung. Slogan kampanye singkat diganti menjadi “Amazing Thailand – Happines Within.” Dan di tahun 2015 juga disasar perkembangan signifikan pada pariwisata domestik.

Ada perubahan yang telah didorong oleh keadaan “mengerikan” dari semester pertama tahun 2014 ketika kedatangan wisman telah jauh di bawah target, terkait memanjangnya  kerusuhan politik Oktober 2013 – Mei 2014, TAT juga didukung dengan US $ 12 juta untuk program kampanye baru yang temanya extravaganza “kebahagiaan” bagi wisatawan di Bangkok, kick-start kampanye pemulihan itu pada 25-26 Juli. Namun, tetap ada kecenderungan melihat akhir 2014 dengan pertumbuhan nol atau minimal lebih dari 2013.

TAT menargetkan 2,2 triliun baht (US$ 1 = Baht 32) atau US$ 68,75 miliar pendapatan pariwisatanya tahun 2015, yang terdiri dari 1,4 triliun baht dari pengunjung asing dan 800 miliar baht dari wisatawan domestik. Pada 2013, angka yang sebenarnya adalah 1,2 triliun baht pendapatan dari 26,5 juta kedatangan wisatawan asing. Kedatangan tahun 2014 ini dan perkiraan pengeluaran telah disesuaikan beberapa kali karena kerusuhan politik. Tidak mau mengambil risiko membuat setiap perkiraan yang lebih umum pada jumlah kedatangan 2015, TAT kini bergeser ke menetapkan target pengeluaran, fokus pada hasil per turis, terlepas dari jumlah pengunjung. Target jumlah kedatangan wisman akan ditetapkan, tetapi disimpan untuk penggunaan internal saja, setidaknya sampai situasi eksternal stabil.

Tema strategis akan dilaksanakan melalui kampanye utama untuk meningkatkan lama tinggal dan meningkatkan pengeluaran untuk belanja, makan dan tambahan niche-market seperti wisata kesehatan dan kebugaran, golf, pernikahan dan bulan madu, dll. Beberapa pejabat industri pariwisata dan eksekutif Thailand mengatakan mereka ingin melihat terwujudnya program itu, dan akan mengawasi dengan cermat untuk memastikan hasilnya.

Setelah analisis tren kedatangan di semester pertama (2014), TAT telah membagi sumber-pasar global menjadi terdiri atas orang-orang yang membutuhkan kebangunan rohani – revival-, seperti di Asia Tenggara, ASEAN, Asia Selatan dan Timur Tengah, dan orang-orang yang tak banyak terpengaruh (terutama Eropa, Amerika Utara dan Afrika). Strategi keseluruhan akan menembus kota-kota sekunder dan target segmen pelanggan baru di kota-kota gateway, seperti kelompok keluarga, kelompok pemuda, mahasiswa, kelompok perusahaan, wanita yang bekerja dan pekerja baru dengan daya beli yang tinggi.

Untuk semua target pasar tersebut, tombol utama yang harus ditekan akan menghubungkan tema yang ada “Thainess” ke yang baru “Happiness” dengan menyoroti cara hidup Thai, termasuk Thai Cuisine, Budaya dan Masyarakat. TAT juga akan membantu pasar baru dan atraksi turis didirikan, bekerja dengan asosiasi industri perjalanan, pusat perbelanjaan dan restoran Thailand, baik di dalam dan luar negeri Thailand.

TAT juga akan terus memanfaatkan keuntungan unik dari lokasi geografis negaranya untuk memanfaatkan peluang yang akan terbuka di bawah Komunitas ASEAN yang terintegrasi pada 2015. Ini berarti mempromosikan perjalanan baik intra-ASEAN serta wisata dari luar kawasan ke dalam ASEAN.

Wah, pokoknya menariklah mengikuti bagaimana aksi-aksi pariwisata di Thailand. Ini diringkaskan dari satu laporan di travel.impact.newswire. Lebih lengkapnya lihat di www.newsletter-pariwisataindonesia.com