Air terjun Kali Pahit.Air yang mengalir berasal dari danau kawah Ijen dengan kadar keasaman tertinggi di dunia.Karena tidak ada petunjuk dan peringatan,sebaiknya Anda berhati-hati dan selalu bertanya kepada pemandu.(Foto:YD)

Air terjun Kali Pahit.Air yang mengalir berasal dari danau kawah Ijen dengan kadar keasaman tertinggi di dunia.Karena tidak ada petunjuk dan peringatan,sebaiknya Anda berhati-hati dan selalu bertanya kepada pemandu.(Foto:YD)

Setelah Anda puas melihat keindahan Kawah Ijen yang eksotis, sebelum pulang, mampir dulu di sebuah air terjun yang unik. Jaraknya hanya sekitar lima menit ke arah kanan dari pintu Pal Tuding. Air terjun ini sebenarnya berada di pinggir jalan tetapi tertutup semak cukup lebat. Kala angin berhembus cukup kuat, kita akan dengan mudah mencium bau belerang yang menyeruak dari balik semak.

Namanya Air Terjun Kali Pahit. Kali Pahit mengalirkan air langsung dari danau kawah Ijen yang menyusuri bebatuan vulkanik setinggi sekitar 150 meter. Ups, buih-buih putih seperti salju menutupi permukaan air, apakah di sini sudah terjadi pencemaran? Pemandu kami menerangkan, buih putih itu disebabkan kadar keasaman air yang tinggi. Dilihat lebih seksama, air yang mengalir di Kali Pahit sebenarnya bening. Air di danau kawah Ijen merupakan salah satu air terasam di dunia dengan kadar keasaman (pH) 0,6-0,8 (batas ambang aman keasaman dalam air bagi manusia 6,5-8,5). Kadar keasaman air di air terjun Kali Pahit mencapai 33 persen! Atau sekitar 2,1 dari batas ambang aman bagi manusia. Jadi buih-buih putih tersebut merupakan tanda peringatan alam bagi para pengunjung. Pada waktu-waktu tertentu, air di sini pun bisa menjadi panas sekali atau dingin sekali.

Air terjun mungil ini berada di bawah naungan pohon-pohon pinus. Meskipun tidak ada tanda-tanda peringatan di sekitarnya, pengunjung harus berhati-hati dan tidak bisa menyentuh airnya. Jangan kecewa dulu, buih putih dan bebatuan vulkanik cukup unik untuk dibidik lensa kamera. Hanya saja tahanlah rasa kecewa Anda, sebab di beberapa batu sudah ada grafiti-grafiti yang ditinggalkan pengunjung sebelumnya.

Sekitar 80-90 persen pengunjung TWA Kawah Ijen ialah wisatawan asing. Akhir-akhir ini, terutama pada saat libur akhir pekan panjang dan musim liburan, wisatawan domestik juga mulai ‘menyerbu’nya. Mulai ada wacana untuk mengendalikan jumlah pengunjung di TWA Kawah Ijen. Salah satunya, sejak terjadi kebakaran di sekitar Kawah Ijen pada pertengahan tahun lalu, di jalur masuk dan turun kini didirikan sebuah pos sementara yang akan mengecek pengunjung dan non-pengunjung.

Sebuah pos sementara didirikan sejak pertengahan tahun 2014.Petugas di sana mengecek pengunjung dan non-pengunjung.(Foto:YD)

Sebuah pos sementara didirikan sejak pertengahan tahun 2014.Petugas di sana mengecek pengunjung dan non-pengunjung.(Foto:YD)

Tantangan lain yang dihadapi ODTW Ijen adalah telah terjadi beberapa kali insiden terhadap wisatawan yang hendak ke Ijen dari Banyuwangi. Mereka “dipaksa” untuk menggunakan kendaraan 4WD. Beberapa travel agent di Jawa Timur mengakuinya dan sangat berharap isu ini segera diatasi sebab akan mempengaruhi citra Ijen. Apalagi, peminat ke Ijen semakin meningkat, baik di kalangan wisatawan mancanegara maupun nusantara.

Cita-cita besar pariwisata adalah meningkatkan perekonomian dan memeratakan kesejahteraan masyarakat hingga ke akar rumput. Untuk mencapai cita-cita besar itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang sangat mudah kita lakukan. Belahan jiwa pariwisata adalah pelayanan. Bangsa Indonesia sudah terkenal dengan keramah-tamahannya dan mudah tersenyum, tapi itu belum cukup apabila kita tidak memahami bagaimana membuat tamu senang dan terkesan karena merasa aman dan nyaman. Ingatlah, pariwisata ibarat tubuh manusia yang tidak mungkin berfungsi sendiri-sendiri. Melalui pariwisata, mungkin kita dapat merajut kembali persatuan sebagai sebuah keluarga besar bernama Indonesia yang mulai retak dan merenggang. *** (Yun Damayanti)