Alangkah indah, gagah, namun anggun...Borobudur itu...(Foto:AH, April 2016)

Alangkah indah, gagah, namun anggun…Borobudur itu…(Foto:AH, April 2016)

Kita tiba-tiba diingatkan, bahwa, pada tahap sekarang ini di bidang pariwisata, kita memerlukan para pengelola faktor “Atraksi” dan Obyek  Daya Tarik Wisata, atau tourist spots, atau places of interest di daerah-daerah destinasi,—semua perlu masuk ke details dalam pelaksanaan mengelola. Detail di “Atraksi” itu akan mencakup aspek yang berkaitan langsung dengan setidaknya beberapa aspek ini: Keamanan, Keselamatan, Kenyamanan dan…pemeliharaan kualitas yang sustainable.

Satu akun Facebook kemarin 30 Juni 2017 (di tag ke FB saya oleh Wuryastuti Sunario) menuliskan pengalaman terbaru menyaksikan apa yang terjadi di candi Borobudur. Niscaya Anda semua pun akan tergugah, baik dikutip, begini:

     Kha Terine Cai added 9 newphotos to the album: Borobudur berduka…sayapun bersdih…! — at Borobudur Temple – Yogyakarta. June 30 at 12.20 am – Yogyakarta.

Saya sengaja posting pake bahasa Indo aj, biar yg baca juga cuma org Indo jg. Hari ini 29 Jun 2017, pukul 5 sore, saya mengunjungi Borobudur untuk menikmati sunset, tp bukan bikin sy happy, malah bikin stress!! Serius lho.. .

  1. Borobudur itu bangunan tua, knp gk dibatasi manusia yg masuk perhari, rame banget kyk lautan manusia, smuanya kyk di hutan manjat2 di Borobudur. Apakah dia akan bertahan sampai anak cucu kita? Kan bisa dibatasi dr pengelola sehari cm jual 1000 tiket, atau skalian harga tiketnya yg dimahalkan.
  2. Manusia skg yg tidak bisa membangun ulang borobudur, tp cuma bisa merusaknya setiap hari. Orang tua yg tidak bisa mengajari anaknya, ketika anak menjadi liar dia tidak akan merasa bersalah karena orang tua sendiri memberikan contoh juga untuk manjat2 & duduk dtempat yg sudah jelas ditulis “DILARANG DUDUK!!”
  3. Ini manusia pada tidak bisa baca? Atau memang tidak perduli? Cuma pentingin mejeng exis aj ya? Kualitas manusia seperti apa ini, gk tua gk muda gk yg kaya ataupun yg miskin sama aj, tidak menjaga sama sekali. Jelas2 ditulis dilarang duduk/ manjat, malah sengaja duduk & manjat dsana.

Saya yakin hal ini gk hanya terjadi di Borobudur. Saya merasakan Borobudur berduka, saya pun bersedih.

Bila ad yg setuju please like or repost, or comment ap aj. Atau mngkin cm sy yg tll perduli???
Saya posting krn saya perduli..

Sy juga posting hal yg sama di sosmed sy yg lain, Instagram: @khatycaimua. 😊 (kl kalian jg mau repost by IG)
Thank you.

Demikianlah tulisan aslinya di FB.
Kemudian, komentar pertama yang muncul menanggapi dari Soehartini Tinoek SEkartjakrarini. Dia tulis: Sadly, the management has no visitor management.I

Komentar ini terasa relevan dan terkait dengan catatan di atas. Bahwa, bukan saja di candi Borobudur, di berbagai places of interest di daerah-daerah destinasi, kini perlu memasuki sistim pengelolaan yang details.

Di candi Borobudur itu, misalnya, petugas di lantai tertentu atau pada sudut-sudut tertentu, ketika secara konsisten ditempatkan petugas yang “mengawasi”, hendaknya pula konsisten menerapkan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, yaitu mengarahkan pengunjung agar menaati apa saja yang ditetapkan sebagai “the do and the don’ts”. Tanpa itu, tentu akan banyak risiko negatif yang berkemungkinan  akan terjadi.

Atau, seperti dilontarkan melalui FB dikutip di atas.***( Arifin Hutabarat )