Ada Batavia Cafe ini di Taman Fatahillah di Kota Tua Jakarta. Dulu setiap minggu pasti beberapa grup wisman yang ditangani oleh operator tur, singgah di sini untuk lunch atau coffee break. Kini belum kembali "kejayaan" itu. Wisman FITs masih datang. (Foto: AH)

Ada Batavia Cafe ini di Taman Fatahillah di Kota Tua Jakarta. Dulu setiap minggu pasti beberapa grup wisman yang ditangani oleh operator tur, singgah di sini untuk lunch atau coffee break. Kini belum kembali “kejayaan” itu. Menurut petugas di situ, wisman FITs masih datang. (Foto: AH)

Yang paling lemah mengkawatirkan tampaknya ada di salah satu mata rantai industri pariwisata kita yaitu operator tur. Indikasinya, tidak bisa atau tidak mau membuat paket-paket wisata yang siap jual dan menjualnya ke pasar luar negeri. Ini terkait dengan wisman. Atau, mengindikasikan kurang kuat permodalan yang perlu untuk mendukungnya?

Sementara itu dewasa ini, infrastruktur kini dipacu oleh Presiden JKW. Di daerah kini dikejar oleh JKW terlaksananya pembangunan jalan-jalan, KA, pelabuhan laut, bandara, dll. Selama ini dikeluhkan apa kendala pariwisata? Infrastruktur, infrastruktur, infrastruktur. Sekarang dlaksanakan. Apa lagi kendalanya? Hambatan visa. Sekarang, dibebaskan. Wisata bahari? Kendala izin-izin CAIT kini dihapuskan, dan seterusnya. Dengan kata lain, tahun 2016 ini membuka peluang industri pariwisata berkiprah bisnis melalui terobosan-terobosan yang telah dilaksanakan itu.

Selama ini di luar Bali  tampak Tour Operator/Travel Agent Indonesia sebagai matarantai terlemah menjual ke pasar. Penjualan mereka yang riel mendatangkan wisman sehingga mesin pariwisata riel berproduksi. Satu matarantai lagi yang terlemah terindikasi ada pada pemda yang kurang atau tak cukup peduli dan riel dalam upaya membangun pariwisatanya yang sesungguhnya.

Ada satu dua daerah saja yang mengindikasikan sebaliknya.

Asosiasinya dan anggotanya jika dibandingkan dengan yang serupa seperti NATAS di Singapura, MATTA di Malaysia, hingga di China, terindikasi juga, ASITA kita relative jauh ketinggalannya.

Di bawah judul “Gubernur, Bupati Beberapa Daerah Ini Perlu “Menelisik” Situasi Wisman”, di laman ini kita catat pada 19-3-2015,… Para gubernur dan bupati di Sumatra Barat, Kepri, NTB, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur. Yogyakarta dan Jawa Barat perlu menelisik secara khusus mengapa jumlah kedatangan wisman ke masing-masing  bandara internasional  bulan Januari 2015 menurun “signifikan” dibandingkan Januari 2014. Tingkat penurunannya berada di antara 26 % – 50%. Anda pun, kalau bisa mengajak dan menganjurkan, masing-masing pemda dengan dinas-dinas pariwisatanya dan para pelaku bisnis pariwisata setempat, sungguh perlu melakukan “analisa bersama” dengan sistim bottom up information.

Dan kita perhatikan jumlah wisman yang menurun di beberapa daerah selama setahun penuh 2014 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (2013). Muncul bandara Manado, Makassar, Solo, Balikpapan yang tingkat penurunannya relatif tinggi. Apa yang sedang terjadi di daerah-daerah tersebut, yang telah dilayani oleh penerbangan langsung dari luar negeri? Yaitu penerbangan langsung  dari sumber pasar wisman yang utama yakni Malaysia dan Singapura?

Pada waktu itu kita lihat statistik seperti ini:

(sumber: diolah dari BPS)

(sumber: diolah dari BPS)

 

“Penjualan” produk wisata, dari satu sudut pandang, merupakan kegiatan yang hampir sepenuhnya berada di tangan kalangan pengelola dan pelaku bisnis pariwisata di daerah destinasi masing-masing. Secara nasional saat ini destinasi Indonesia dipasarkan melalui penguatan branding, penetrasi  pasar melalui advertising, dan kegiatan selling diperankan oleh Kemenpar secara nasional dengan porsi pembiayaan 20% dari anggaran promosi. Telah diberitakan, proporsinya ialah Branding : Advertising : Selling adalah 50 : 30 : 20. Dengan demikian, mungkin pihak daerah destinasi, dalam mengalokasikan biaya pemasaran dan promosinya akan lebih baik kalau terpusat ke selling? Boleh jadi komplementer yang sinergis kalau anggaran promosi dari daerah destinasi berpola sebaliknya: Selling 50%, Advertising 30% dan Branding 20%. Atau, proporsi yang dipandang lebih efektif-lah dalam “menjual”. Begitulah kita catat di sini tempo hari.

Untuk tahun 2015 ini, sekarang terdindikasi kemungkinan target 10 juta wisman tercapainya mungkin kurang sedikit, atau, di atas target sedikit. Pastinya setelah BPS mengumumkan jumlah wisman bulan Desember 2015.

Tapi yang lebih penting lagi tentulah mengantispasi tahun 2016. Seperti dicatat di atas, pembangunan dan pengembangan prasarana dan sarana demi mendukung pariwisata, secara riel sedang “dikejar” oleh Presiden dan Menteri-menteri.

Statistik BPS di bawah ini menunjukkan jumlah kunjungan wisman tahun 2015 ini hingga November. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,  kita dapat menduga kuat bahwa yang ditandai panah biru, terindikasi sebagai terdampak antara lain oleh gangguan asap dari Sumatra dan Kalimantan, atau abu vulkanik dari gunung Raung dan Rinjani.

Ini pula mengindikasikan, tanpa gangguan “bencana alam” dari asap dan abu vulkanik, target jumlah keseluruhan 10 juta wisman berkunjung ke Indonesia tahun 2015 tak diragukan.

Jumlah kunjungan wisman :

(Sumber: diolah dari BPS)

(Sumber: diolah dari BPS)

 

Namun yang ditandai panah warna merah, mengindikasikan diperlukan perhatian lebih serius lagi dari kalangan Pemda dan pelaku bisnis pariwisata setempat dalam memasuki tahun 2016

Jadi, sepanjang tahun ini bahkan tahun lalu banyak pintu di luar 3 the great tiap bulan cenderung turun. Kecuali Manado sekali melejit berkat charter flight dari China. Jakarta beruntung karena sebagai pusat bisnis, pemerintahan, jumlah foreign visitors tetap tinggi padahal pariwisatanya terkesan payah dilihat dari sudut holiday makers. Namun harus diakui, pengunjung yang bertujuan bisnis pun termasuk wisatawan  membawa dampak ganda ke masyarakat ketika berbelanja untuk  rekreasi, transportasi, makan minum.***(Arifin Hutabarat)