Ruang tunggu sebelum boarding di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel. (Foto:YD)

Ruang tunggu sebelum boarding di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel. (Foto:YD)

Empat hari terakhir ini, film fenomenal “Ada Apa dengan Cinta?” (AADC) yang pernah diputar pada tahun 2002 kembali ramai diperbincangkan. Sebuah aplikasi layanan pesan singkat dan chatting Line merilis kampanye barunya melalui film pendek yang terinspirasi dari cerita film fenomenal tersebut ke YouTube.

Di dalam film pendek berjudul “Ada Apa dengan Cinta? 2014” diceritakan tokoh Rangga yang kini tinggal di New York dan sudah sukses menjadi fotografer terkenal dengan kehidupan yang sophisticated ditugaskan ke Seoul, Bangkok dan Jakarta. Visualisasi Ibukota lebih ditekankan pada interior rumah/apartemen yang menunjukkan kelas menengah-atas. Film pendek ini pun nyaris berhenti pada adegan di bandara seperti pada film AADC (2002). Di situ digambarkan bandara di Jakarta yang sudah very sophisticated.

Mengacu pada cerita yang menggambarkan Rangga akan kembali ke New York dengan kelas bisnis, duduk di ruang tunggu yang megah di bandara internasional di Jakarta, menggelitik keingintahuan di manakah sebenarnya bandara yang tampak sangat elok tersebut?

Secara visual, bandara tersebut tampak mirip dengan Terminal Tiga Bandara Internasional Soekarno Hatta, atau Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar? (Tapi lebih mirip dengan bandara-bandara di luar negeri). Di manapun lokasi pengambilan gambar film pendek tersebut, paling tidak bisa membantu citra bandara internasional di Jakarta.

Mengapa bandara?

Negara yang paling bangga dan paling sering menampilkan bandara internasionalnya adalah Korea Selatan. Sebagian besar film layar lebar dan film serial TV dari negeri ginseng menampilkan adegan di Bandara Internasional Incheon. Mulai dari jalan bebas hambatan dan jembatan Incheon, lokasi drop off, lobi hingga ruang tunggu di dalam bandara. Durasi penayangannya rata-rata sekitar 10-30 detik.

Selain menampilkan latar belakang lansekap luar ruang yang indah, atau unik dan eye catchy, adegan di bandara memperkuat citra kemajuan negerinya. Ditambah dengan berita-berita mengenai airport fashion yang dipakai oleh para selebriti Korea Selatan yang sering berseliweran, bandara itu akhirnya menjadi atraksi sendiri, terutama bagi wisatawan asing penggemar K-Pop.

Bandara merupakan pintu gerbang utama dari luar negeri. Fisik bangunan, interior ruang, dan pelayanan yang dilihat, dialami dan dirasakan oleh para penumpang yang datang dan pergi mampu berbicara lebih jauh dari apa yang dikira atau diharapkan. Bandara menjadi pembentuk impresi pertama di benak para penumpang/pengunjung terhadap suatu negara/daerah.

Penggunaan bandara dan tempat-tempat lain memang mesti disesuaikan dengan jalan cerita. Sepertinya bandara, stasiun, terminal dan pelabuhan belum cukup mengambil peran penting dalam cerita film-film Indonesia. Data statistik yang menunjukkan sekitar 8 juta outbound Indonesia dan sekitar 240 juta perjalanan domestik belum banyak memberi inspirasi kepada para kreator film layar lebar maupun TV.

Semenjak pertama kali diunggah ke YouTube, film pendek AADC 2014 diperkirakan telah ditonton oleh 2,2 juta orang. Misalkan sepertiga atau seperempat penonton belum pernah mendarat di bandara di Jakarta, itu akan membentuk imajinasi mengenai Jakarta yang sudah sangat canggih dan nyaman. Bandaranya tidak kalah dengan yang ada di luar negeri. Tidak menutup kemungkinan suatu saat dari penonton tersebut ke Jakarta, dia akan mencari lokasi tersebut. Untuk sekedar tahu atau untuk membuat foto kenangan-kenangan di tempat yang sama.

Fungsi bandara sekarang ini sudah jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat mendarat, lepas landas, dan transit. Kini banyak negara berlomba-lomba memperbaiki dan meningkatkan infrastruktur bandara, dan kualitas pelayanan operator bandara maupun para staf di garis depan.

Meskipun tidak secara eksplisit disebut atraksi wisata, tapi dari bandara citra dan reputasi negara/daerah dipertaruhkan. *** (Yun Damayanti)