Para pembicara bersama Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand (tengah) pada ASEAN Gasronomy Tourism.(Foto:YD)

Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand WeerasakKowsurat bersama para pembicara di ASEAN Gasronomy Conference.(Foto:YD)

Chiang Mai, ( ITN – IndonesiaTouristNews ): Hasil dari sebuah riset terhadap pejalan muda (young traveller) di Eropa menunjukkan, generasi dalam rentang usia 20 tahun-30 tahun lebih memilih datang ke festival makanan (food festival) daripada ke festival musik (music festival). Sekitar 61% generasi milenial akan sangat ingin mengunjungi restoran atau tempat-tempat makan baru. Tujuannya, ingin mencari pengalaman berbeda dan menjadi “Yang Pertama” merasakannya.

Itu dinyatakan oleh pembicara utama pertama dalam konferensi gastronomi pada 25/1/2018, Dr. Diane DoddPresident and Co-Founder of International Institute of Gastronomy, Culture, Arts and Tourism (IGCAT) berbasis di Spanyol. Kata dia, untuk menjadi suatu destinasi gastronomi diperlukan keberadaan dan peran pemerintah, swasta, pendidikan (cullinary school), dan festival-festival kuliner. Dengan kebutuhan pangan yang terus meningkat, pertanian monokultur telah mengakibatkan kehilangan keberagaman makanan di banyak tempat di dunia. Maka destinasi gastronomi perlu menunjukkan dan melakukan upaya-upaya pertanian dan pariwisata terbaik dan berkelanjutan (long term of sustainable agriculture and tourism).

It is not only about beautiful food. Food is not about agriculture. It is about us,” ujar Dr. Dodd.

The menu is the business plan for tourism business. Karena 1/3 dari pengeluaran wisatawan adalah untuk belanja kuliner. Mereka menyambangi mulai dari tempat-tempat makan lokal (local eatery) hingga restoran yang menawarkan konsep makan mewah (fine dining). Maka gastronomi dalam pariwisata menyajikan unsur-unsur LandscapeSettingStory Telling. Makna makan dan minum tidak lagi sekedar mengenyangkan perut dan memuaskan dahaga tetapi itu adalah mengenai kita.

ASEAN Gastronomy Conference diadakan pada 25 Januari 2018 di Shangri-La Hotel Chiang Mai. Ini sebuah program dalam perhelatan ASEAN Tourism Forum 2018.  Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand Weerasak Kowsurat mengatakan, 1/3 dari pengeluaran wisatawan adalah untuk kuliner. Mereka makan di tempat-tempat lokal (local eatery) hingga restoran fine dining.

Gastronomi menggabungkan kreasi (created) dan inovasi (innovated), menciptakan suatu pengalaman kuliner dalam perjalanan (cullinary journey) sehingga mampu menarik perhatian pengunjung/wisatawan.

Indonesia juga berbicara di situ. Kepada forum konferensi gastronomi ASEAN pertama itu, Ketua Percepatan Wisata Belanja dan Kuliner Kementerian Pariwisata Indonesia Vita Datau, sebagai salah seorang pembicara memperkenalkan makanan Indonesia rendang dan marandang. Dia mengusulkan, agar dibentuk satu platform yang mampu menampilkan kekayaan gastronomi dari negara-negara anggota ASEAN. Apalagi pada 30 Mei hingga 1 Juni 2018 Bangkok akan menjadi tuan rumah perhelatan konferensi gastronomi dunia keempat yang akan diselenggarakan bersama UNWTO. Dan itu merupakan waktu yang tepat.*

“Dengan gastronomi, menggunakan bahan-bahan lokal yang masih segar, kita tidak perlu mengimpor. Jadi, mari kita bersama-sama memberi kesempatan kepada para petani dan pemasok lokal untuk menghasilkan bahan-bahan pangan lokal berkualitas,” ujar Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand.

Panelis di ASEAN Gastronomy Conference menghadirkan pakar dan chef-chef Thailand.(Foto:YD)

Panelis di ASEAN Gastronomy Conference menghadirkan pakar dan chef-chef Thailand.(Foto:YD)

Pun pembicara Dr. Diane Dodd, mengatakan, gastronomi merupakan salah satu upaya mengingatkan kembali masyarakat lokal untuk bangga dan melestarikan keunikan kuliner yang dimilikinya dan itu akan menarik perhatian bagi orang lain (wisatawan).

Dr. Dodd menerangkan, ada tiga unsur yang dimiliki gastronomi dalam pariwisata yakni Landscape, Setting, Story Telling. Maka gastronomi dalam pariwisata tidak hanya melibatkan chef, tetapi juga seniman (artisan), perancang (designer) dan story teller (pencerita) agar dapat memberikan pengalaman baru yang dicari oleh pengunjung/wisatawan.

 

The menu is the business plan for tourism business,” ungkap Associate Professor Dr. Tracy Berno, Pacific Culinary Arts Experts, pembicara utama kedua dalam konferensi tersebut.

Menurut pengalamannya, pengunjung/wisatawan bisa merasakan kuliner yang masih tradisional maupun yang telah melalui inovasi. Seorang chef ialah peneliti (researcher) sekaligus penterjemah (interpreter) tradisi lokal kemudian membawanya ke hadapan tamu (bring the cuisine to diners).

Gastronomi dalam pariwisata memerlukan kerja sama kreatifitas (co-creation), praktik-praktik pertanian yang baik dan berkelanjutan serta edukasi guna memelihara sekaligus mengembangkan dan menciptakan inovasi-inovasi baru dari kekayaan tradisi lokal.*** (Yun Damayanti)