Danang Baskoro,Dirut PT AP I (kiri) dan Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara (kanan) usai menandatangani MoU,Kamis (3/11) di Jakarta.(Foto:Humas Kemenpar)

Danang Baskoro,Dirut PT AP I (kiri) dan Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara (kanan) usai menandatangani MoU,Kamis (3/11) di Jakarta.(Foto:Humas Kemenpar)

 Airlines, Airport, Authority/Air Navigation (3A): Aksesibilitas menjadi salah satu urusan yang akan ditekankan dalam strategi pariwisata Indonesia tahun depan. Menpar Arief Yahya menyebutnya, dalam aksesibilitas juga ada 3A yakni Airlines, Airport dan Authority. Dalam rangka mencapai target kunjungan wisatawan pada 2019, sekaligus mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah, maka kerja sama, koordinasi dan sinergi lintas sektor di antara lembaga/instansi pemerintah  maupun kerja sama antara pemerintah dan swasta mesti dilakukan.

Dirut AirNav Indonesia Bambang Tjahjono (kiri) dan Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara (kanan) usai penandatanganan MoU dengan PT AP I dan PT AP II pada hari yang sama.(Foto:Humas Kemenpar)

Dirut AirNav Indonesia Bambang Tjahjono (kiri) dan Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara (kanan) usai penandatanganan MoU dengan PT AP I dan PT AP II pada hari yang sama.(Foto:Humas Kemenpar)

Kementerian Pariwisata baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan operator bandara PT Angkasa Pura (AP) I dan PT Angkasa Pura (AP)II, serta AirNav Indonesia di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis (3/11). Penandatanganan dilakukan oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara, Direktur Utama PT AP I Danang S. Baskoro, Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin, dan Direktur Utama AirNav Indonesia Bambang Tjahyono. Menpar Arief Yahya dan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Gde Pitana menyaksikannya.

Adapun kerja sama yang disepakati dalam MoU itu antara lain meliputi: pertukaran data, informasi, dan promosi bersama untuk menunjang kegiatan promosi pariwisata Indonesia di pasar internasional dan domestik;  membuat analisis dan kajian bersama mengenai konektivitas udara yang dibutuhkan wisman dan wisnus; melakukan upaya sinkronisasi rencana pengembangan kapasitas bandara dengan rencana pengembangan destinasi pariwisata dalam rangka mencapai target pariwisata nasional; serta  penyediaan sarana pusat informasi pariwisata di bandara-bandara internasional maupun domestik.

Menteri Pariwisata mengatakan, saat ini maskapai-maskapai penerbangan menyediakan 19,5 juta kursi di rute penerbangan internasional. Ketersediaan kursi pesawat tersebut hanya cukup memenuhi target kunjungan 12 juta wisman tahun 2016. Sementara, agar dapat mendatangkan 20 juta wisman tahun 2019 membutuhkan 30 juta kursi. Dalam tiga tahun ke depan, Indonesia memerlukan tambahan 10,5 juta kursi. Jadi memang keberhasilan pariwisata Indonesia sangat ditentukan dari ketersediaan jumlah kursi pesawat. Itu karena 75% kunjungan wisman ke Tanah Air menggunakan transportasi udara.

Dengan telah ditandatanganinya nota kesepahaman antara Kemenpar, pengelola bandara dan AirNAv Indonesia maka untuk memperoleh tambahan kursi seperti yang ditargetkan akan melakukan upaya-upaya diantaranya: menjamin kecukupan slot di bandara, kecukupan air service agreement (ketersediaan air traffic right), dan menambah penerbangan langsung berjadwal baik melalui pembukaan rute-rute baru, penerbangan tambahan, maupun layanan penerbangan baru dari pasar-pasar potensial wisman.

Agar dapat memenuhi kebutuhan tambahan kursi dalam waktu dekat, atau pada tahun 2017, pariwisata Indonesia masih akan tetap mengandalkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Bandara Internasiona Soekarno Hatta. Ini merupakan upaya non fisik.

Untuk jangka waktu satu hingga dua tahun ke depan, pariwisata Indonesia membutuhkan perluasan bandara-bandara yang perlu segera dilakukan. Perluasan yang diperlukan seperti ruang terminal penumpang, memperluas parking stand pesawat, dan membangun rapid exit taxi way di beberapa bandara.

Sementara itu, guna memenuhi kebutuhan dalam tiga tahun ke depan, Menpar akan meminta segera mulai dilakukan pembangunan bandara-bandara baru, seperti di Kulon Progo, Yogyakarta; Bali Utara; Jawa Barat; dan Banten.

“Kunjungan wisman sangat bergantung pada airlines. Melalui MoU ini sebagai upaya mendorong AP I, AP II, AirNav Indonesia serta arlines untuk meningkatkan kontribusinya dalam pencapaian target kunjungan 20 juta wisman serta pergerakan 275 juta wisnus di Tanah Air pada 2019 mendatang,” ujar Menpar Arief Yahya sesaat setelah penandatanganan Mou.

Bandara Adi Sumarmo,Solo.Bisa jadi alternatif jangka pendek mengatasi lalin udara yang padat di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.(Foto:YD)

Bandara Adi Sumarmo,Solo.Bisa jadi alternatif jangka pendek mengatasi lalin udara yang padat di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.(Foto:YD)

Rute baru Jakarta-JB dan Solo-KL mulai Januari 2017

Pada Jumat (4/11) AirAsia mengumumkan akan memperluas jaringan pelayanan antara Malaysia dan Indonesia mulai bulan Januari 2017. Dalam siaran persnya disebutkan, AirAsia meluncurkan rute internasional baru antara Johor Baru dan Jakarta mulai tanggal 10 Januari 2017 dan melayani kembali penerbangan dari Kuala Lumpur ke Solo mulai tanggal 17 Januari 2017. Kedua rute itu akan dilayani dengan menggunakan pesawat Airbus A320 berkapasitas 180 kursi.

Penerbangan awal AirAsia di kedua rute tersebut menawarkan harga-harga khusus untuk pemesanan hingga 13 November 2016 dengan periode perjalanan mulai dari tanggal 10 Januari 2017 untuk rute Jakarta-Johor Baru dan Solo-Kuala Lumpur mulai dari 17 Januari 2017.

Rute-rute ini menguntungkan bagi kedua negara. Untuk pariwisata inbound, sekarang tinggal bagaimana pelaku industri perjalanan dan pemda di destinasi Indonesia ikut menindak lanjuti. ***