Di dalam negeri Garuda juga aktif menjual tiket ketika ikut serta pada pameran dan promosi pariwisata.(Foto:AH)

Di dalam negeri Garuda juga aktif menjual tiket ketika ikut serta pada pameran dan promosi pariwisata.(Foto:AH)

Pembaca, kita menutup dan membuka tahun dalam dukacita, hingga hari ke-6 tahun baru ini masih berlanjut dengan berita dan pemandangan drama musibah yang mengiringi hari-hari kita. Tapi mulai pula terbuka peluang untuk introspeksi mendalam, misalnya introspeksi kalangan instansi berwenang berkait izin-izin penerbangan, dan introspeksi di kalangan operator penerbangan sendiri.

Tapi, meloncatlah kita  sekejap ke luar. Perubahan sedang kencang berlangsung. Diperkirakan tahun 2014 yang lalu masyarakat seluruh dunia berbelanja melalui online US$ 1,4 triliun, dan tahun 2015 ini ditaksir akan menjadi $ 1,7 triliun. Perkiraan sudah sampai 2018 yang ditaksir akan mendekati $ 2,4 triliun. Jadi, arus berbelanja melalui online sedang melanda gaya dan cara hidup masyarakat di dunia. Tentu saja tak akan terkecuali di Indonesia, di mana penggunaan gadget dan internet salah satu tertinggi di bumi ini.

Di bidang pariwisata, kita dibawa untuk hati-hati mencermati, bahwa kita tengah jauh tertinggal dalam “melayani dan mengikuti” aliran kencang kebiasaan masyarakat dunia membeli tur. Sebaliknya kalau membeli tiket, memesan kamar, dan perjalanan ke luar negeri dari Indonesia, betapapun belum didapatkan data statistis, tapi kecenderungan itu semakin meluas pada wisatawan Indonesia yang hendak berwisata ke Malaysia, Thailand, Korea, ke Taiwan, hingga ke Eropa. Kita membeli melalui on line setelah mencari-cari alias browsing tiket mana hendak dibeli, hotel mana hendak dipesan, dan tur mana yang hendak dipesan.

Meloncat lagi ke berita lain, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bus tingkat pariwisata City Tour Jakarta akan tetap beroperasi. Pernyataan ini membantah kabar yang menyebut bus tersebut akan berhenti beroperasi dalam waktu dekat. “Bus pariwisata akan tetap beroperasi, tidak dihilangkan,” kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Senin, 5 Januari 2015.

Beberapa hari yang lalu di sini juga kita catat, kadang kita merasa kecele, mengapa kota-kota di Indonesia cenderung ketinggalan? Kota-kota  di Afrika Timur pun, dari Nairobi dan Kigali, serta Kampala dan ibukota komersial Tanzania Dar es Salaam merasakan perlunya menyediakan layanan city tour. Jakarta memang sudah kembali membangun “embrio” city tour dengan bus, (mohon diulang, ini baru embrio), juga kota Bandung dan Surabaya. Syukurlah, kendati masih bertahap embrio, artinya, baru tahap sangat awal. Bagaimana kota lainnya? Dan bagaimana meningkatkannya menjadi city tour yang “credible” untuk konsumen wisman?

Ahok menjelaskan, bus yang semula berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta akan dikelola oleh PT Transjakarta. Saat ini proses peralihan tersebut sudah memasuki pengurusan administrasi. Peralihan pengelola ini bertujuan mengintegrasikan pengelolaan moda transportasi di Jakarta.

Apakah Anda juga mungkin pernah berpengalaman? Di Kuala Lumpur atau Singapura, city tour pun disediakan bagi para penumpang penerbangan yang sedang transit di bandara. Jika waktu tunggu transit misalnya empat jam, kita bisa mengambil city tour yang 3 jam, dan “terjamin” kita akan kembali di bandara tanpa ketinggalan jadwal penerbangan kita. City tour di pelbagai kota besar di Asia cenderung selalu dibeli oleh wisatawan. Sebenarnya itu mencerminkan, kita sebagai “pembeli” di hati kecil memberikan kepercayaan bahwa tur dalam kota itu tentu memuaskan. Kota itu bisa dipercaya mempunyai tur yang mengesankan.

Itu salah satu kekurangan banyak destinasi kita. Kecuali Bali.

Nah, terkait analisis SWOT, kita coba ambil yang T, threat alias ancaman.  Berita dari Detikfinance.com dikutip dimana Arif Wibowo, Dirut Garuda Indonesia yang baru menggantikan Emirsyah Satar, telah mengumumkan segera akan mengurangi penerbangannya ke dan dari bandara Haneda, Tokyo, dari tadinya dua kali sehari menjadi sekali sehari saja. Yaitu Jakarta-Haneda, dan Denpasar-Haneda, masing-masing dua kali sehari dikurangi menjadi sekali.

Bagi Garuda, tentulah sama seperti hampir setiap operator penerbangan di dunia dewasa ini, rute yang jelas merugi, serta merta dihentikan. Merugi tentu lantaran jumlah penumpang yang tak mencukupi. Rute ke Haneda, bandara itu berlokasi di tengah kota Tokyo, Garuda kebagian salah satu slot time ialah mendarat di tengah malam, begitu pula berangkatnya. Nah, bagi penumpang yang mendarat mid-nite, misalnya baru pulang dari Bali, akan mengalami kesulitan untuk pulang ke rumah lantaran semua angkutan umum, keretapi, monorail, bus, sudah berhenti operasi. Sedangkan menggunakan taksi pulang ke rumah, bisa-bisa ongkosnya akan sama atau lebih dari harga tiket terbangnya. Wisatawan tentu enggan terbang dengan jadwal tersebut. Maka, dapat dipahami kalau Garuda harus mengurangi atau menghapus jadwal ‘mid night” itu.

Tapi itu antara lain bagian-bagian “threat” yang perlu dicermati untuk tahun 2015, di mana kita tengah berupaya meningkatkan pertumbuhan jumlah wisman menuju 20 juta di tahun 2019.

Beberapa hari yang lalu kita catat juga di sini, jumlah wisman dari Rusia kini tampak sungguh terancam semakin turun.  Antara lain operator penerbangan Transaero milik Rusia menghadapi problem besar di sisi keuangan, dan kait mengait dengan devaluasi mata uang rubel. Transaero adalah  maskapai penerbangan yang nyaris “memonopoli” angkutan wisman dari Rusia ke Indonesia dengan operasi penerbangan charter.

Pendekatan apa dan bagaimana untuk mengatasi “ketiadaan” angkutan udara bagi wisman Rusia ke Indonesia? Bukankah jumlah kunjungan dari Rusia ke Indonesia telah hampir mencapai 100 ribu per tahun? Tapi belakangan ini cendeung mulai turun? Mungkinkah Garuda terjun ke pasar wisman Rusia itu?

Arif Wibowo menjelaskan, Garuda akan merestrukturisasi 20 rute utamanya, termasuk ke Jepang tadi, dan juga nanti ke Brisbane, Australia.  Penyesuaian juga akan dilakukan untuk rute ke Hongkong, dan Canton (China).

Yang belum tegas ialah informasi apakah Garuda akan menambah penerbangan ke China atau tidak. Tetapi ke Timur Tengah akan ditambah, dan dijelaskan oleh Dirut Garuda, tinggi sekali permintaan dari dalam negeri untuk perjalanan Umroh dari Indonesia.

Angkutan udara alias penerbangan yang menghubungkan langsung Indonesia dengan kota-kota besar di luar negeri, pada sisi tertentu, berperan “menentukan” apakah jumlah wisman bisa meningkat atau tidak.***