10 Destination Branding untuk Memperkuat Pemasaran Pariwisata Indonesia di Luar Negeri

Destination brand baru 10 destinasi.(Foto:YD)

Destination brand baru 10 destinasi.(Foto:YD)

Destination branding dibuat dalam rangka mendukung master brand Wonderful Indonesia (WI) yang posisinya semakin menguat di kancah internasional.

Penyusunan merek baru (re-branding) terhadap 10 destinasi pariwisata yang baru saja diluncurkan oleh Kementerian Pariwisata merupakan langkah upaya penyelarasan antara master brand Wonderful Indonesia dengan sub brand di bawahnya yakni destination brand.  Ini gunanya untuk semakin memperkuat positioning dari master brand WI sekaligus menciptakan sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Kesepuluh destinasi pariwisata yang baru saja meluncurkan re-branding adalah Medan (Sumatera Utara), Kepulauan Riau (Kepri), Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Joglosemar (kawasan segitiga Jogja-Solo-Semarang), Banyuwangi (Jawa Timur), Bali, Lombok (NTB), Makassar (Sulawesi Selatan), dan segitiga emas terumbu karang Indonesia yakni Bunaken (Sulawesi Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dan Raja Ampat (Papua Barat) menjadi satu destinasi yang disebut Coral Wonders.

Dasar pemilihan kesepuluh destination branding, destinasi sudah layak dijual atau belum? Kelayakan itu dinilai dari kesiapan aksesibilitas, amenitas dan atraksi di destinasi. Pertimbangan lainnya, melihat komitmen kepala daerah di destinasi terutama untuk mempromosikan daerahnya keluar negeri. Lebih ditilik lagi, kesepuluh destinasi yang melakukan re-branding itu namanya telah dikenal oleh publik di mancanegara.

Peluncuran 10 Destination Branding di Jakarta,Rabu(14/6),dihadiri DP3M I Gde Pitana (tengah) dan yang mewakili para kepala daerah yang destinasinya re-branding.(Foto:YD)

Peluncuran 10 Destination Branding di Jakarta,Rabu(14/6),dihadiri DP3M I Gde Pitana (tengah) dan yang mewakili para kepala daerah yang destinasinya re-branding.(Foto:YD)

“Kesepuluh destinasi pariwisata tersebut telah memenuhi unsur 3A (Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas). Paling siap. Sehingga akan mempermudah branding dalam rangka meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia yang tahun ini ditargetkan sebesar 15 juta dan ditingkatkan menjadi 20 juta pada 2019,” papar Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana pada saat peluncuran.

Brand management sangat krusial karena menghubungkan produk dengan konsumen. Nilai dari suatu produk ada pada mereknya. Pemerintah telah dan akan terus mempromosikan branding WI secara intensif ke mancanegara.

Hasilnya sampai dengan saat ini, WI sebagai sebuah merek telah mampu meningkatkan citra pariwisata Indonesia di kancah pariwisata global. Pada tahun 2016 merek WI berada di peringkat ke-47 dunia. Sebelumnya, berada di peringkat 143 dunia. Bahkan, awalnya merek pariwisata Indonesia tidak dikenal sama sekali.

Sub brand atau destination branding diperlukan mengingat negara Indonesia terlalu luas. Ketika wisman akan ke Indonesia yang disebutkannya nama destinasi yang dituju. Misalnya, ke Bali, ke Bandung, ke Jakarta, ke Raja Ampat dan seterusnya.

Jadi, master brand WI itu mesti diturunkan kepada merek-merek (brand) destinasi yang merupakan tujuan kunjungan wisman ke Indonesia. Oleh sebab itu, pada tahun 2016 Kementerian Pariwisata memfasilitasi daerah-daerah guna melakukan re-branding atau merevitalisasi mereknya, atau membuat merek baru sehingga bisa menjadi alat penjualan yang layak.

Kemampuan anggaran pemerintah pada tahun 2016 baru bisa memfasilitasi re-branding 10 destinasi. Pada tahun 2017 sedang diproses re-branding lima destinasi lagi. Menurut rencana, Palembang (Sumatera Selatan), Danau Toba (Sumatera Utara), Labuan Bajo (NTT), Manado (Sulawesi Utara), dan TN Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur).

Sampai dengan tahun 2019 ditargetkan total 25 destination branding yang akan memperkuat merek Wonderful Indonesia di ajang pariwisata global.

Pemilihan dan penetapan merek juga dilakukan sesuai dengan rambu-rambu. Rambu-rambu itu dibuat berdasarkan pada hasil penelitian dan kajian yang sudah lama dilakukan oleh Kemenpar. Hasilnya menunjukkan, Wonderful Indonesia ditempatkan sebagai master brand dan di bawahnya ada sub brand yang mempunyai DNA yang sama dengan WI. Pendekatan yang dipilih adalah endorsed brand family agar merek-merek destinasi itu tetap menjadi bagian dari Indonesia.

Maksudnya, mulai dari gambar logo hingga font (huruf) dan warna dalam destination branding mengacu pada logo dan merek dalam Wonderful Indonesia. Dengan demikian, ketika publik di mancanegara melihat merek suatu destinasi bisa merasakan merek itu bagian dari Indonesia.

Dalam proses penyusunannya, destinasi akan dibantu konsultan yang ahli di bidang branding, melibatkan budayawan, dan pemangku kepentingan pariwisata termasuk pemda dan segenap pelaku industri pariwisata di daerah masing-masing.

I Gde Pitana selanjutnya menekankan, agar merek yang telah diluncurkan dipakai oleh destinasi di semua aspek pariwisatanya seperti yang telah dilakukan oleh Kemenpar memakai brand WI di semua aspek pariwisata Indonesia.

Adapun perbedaannya dengan 10 Destinasi Prioritas, kesepuluh destinasi yang dipilih itu menekankan pada pengembangan infrastrukturnya akan diprioritaskan. Namun, belum tentu semua destiniasi yang berada di dalam 10 Destinasi Prioritas sudah bisa dipasarkan dan dijual secara masif kepada publik di mancanegara. Meskipun diantara 10 Destination Branding ada juga yang termasuk ke dalam 10 Destinasi Prioritas.

“The 10 Destination Branding” diluncurkan di kantor Kementerian Pariwisata di Jakarta, Rabu (14/6). Peluncuran dilakukan oleh Deputi Bidang  Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Gde Pitana mewakili Menteri Pariwisata Arief Yahya. Hadir pada peluncuran itu Noviendi Makalam, Asdep Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata, serta wakil-wakil gubernur, wakil-wakil walikota, kepala-kepala dinas pariwisata dan seorang ketua badan promosi pariwisata daerah mewakili para kepala daerah yang destinasinya baru saja re-branding.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.