Pengusaha dan masyarakat tinggal mengikuti. Kita selaku warga perlu mengunjungi!

Yandianto Hamidy

Yandianto Hamidy

Sudah mencapai 213.926 wisman mengunjungi Lombok tahun 2008, wisnus bahkan berjumlah 330.575. Tapi rata-rata tingkat hunian hotel berbintang cuma 33,20 % selama tahun 2008 pada hal jumlah kamar se propinsi NTB itu tercatat 2.701, sedangkan hotel non-bintang berjumlah 4.836 kamar dengan tingkat hunian rata-rata 24,96%. Betapa cukup banyak kamar yang belum terpakai. Tourist spot yang “layak jual” tersedia beragam mulai dari objek wisata selam di laut, dan pantai yang indah, sampai the “living culture” yang etnis dan spesifik Lombok, hingga tour sepeda sampai pendakian gunung Rinjani yang memesona. Tak heran wisman telah datang ke sini dari lebih 33 negara. Warga Indonesia sangat patut terbang ke Lombok, atau menyeberang dari pulau Bali. Dan menikmati semua itu.

Pantai Senggigi yang menghadap sun set, dengan tiga pulau Gili sorga snorkeling dan diving, telah terjamin berkelas internasional. Ada festival “Gendang Beleq” mulai terkenal disebut “the Big Drums” berpenampilan khas Lombok. Gendang itu ukurannya sebesar tubuh manusia dewasa, yang digendong dan ditabuh. Kombinasi manajemen “pribumi” dan “expatriates” di situ telah berhasil memproduksi penyajian promosi, sehingga dari kaca mata internasional pun tergambar betapa indah dan romantisnya berkeliling mengendarai sepeda. Betapa “explorable” kenikmatan mendaki gunung Rinjani. Dan berkeliling ke sekitar tak jauh dari kawasan Senggigi, kita menemukan “discovery” yang khas.

Expatriate di sini kembali mengutip ungkapan lama: “You can see Bali in Lombok, but you can’t see Lombok in Bali”. Masyarakat Bali dengan Pura tersebar di beberapa tempat, dan ada yang didirikan di abad 16 dan 19.

Kalau VLS 2012 menargetkan 500.000 wisnus agar mengunjungi Lombok, rasanya akan tercapai mengingat tahun lalu sudah berjumlah 330.575. Penerbangan yang mendarat ke Lombok kini sudah terdiri dari Garuda Indonesia, Merpati, Lion, IAT, Trigana, dan segera menyusul Batavia Air. Frequensi pun cenderung meningkat, apalagi nanti saat BIL – Bandara Internasional Lombok yang baru, akan beroperasi medio 2010.

Gubernur minta “keadilan”

Tak urung Gubernur NTB, Zainul Mazdi tetap menyurati direksi Garuda awal Agustus yll. Soalnya, maskapai nasional ini baru-baru ini melancarkan kampanye pemasaran beberapa  destinasi dengan harga kampanye yang “mencolok”. Salah satu ialah iklan “harga mulai Rp 150.000 terbang ke Bali dari Jakarta”. Gubernur bertanya dan meminta, mengapa tidak termasuk tujuan ke Lombok?

Yandianto Hamidy, direktur Bidy Tour, salah satu Tour Operator yang aktif menangani wisman maupun wisnus di Lombok, mengakui bahwa harga tiket bertujuan ke Lombok relative lebih mahal ketimbang tujuan Bali. Bukan hanya di dalam negeri. “Merpati yang beroperasi ke Kuala Lumpur juga menjual harga tiket relative mahal di Malaysia,” kata dia.

Khusus menangani wisman, Yan Darmadi selama tahun 2008 yll memperoleh sekitar 1000 orang. Jumlah itu terendah selama ini karena sebelumnya ia pernah menghandle jumlah wisman lebih dari itu, dari ASEAN dan Eropa. Konon sekitar 10 saja tour operator yang aktif di propinsi ini menanagani inbound tour. Dan mengindikasikan diperlukan lebih banyak tour operator yang mestinya pro aktif mencari clients.

Yang lebih meragukan adalah seberapa besar bisa mendatangkan wisman, mengingat hingga kini baru dua maskapai yang terbang langsung ke Lombok. Silk Air dari Singapura dan Merpati dari Kuala Lumpur. Ada kabar Lion akan membuka rute Kuala Lumpur tahun ini, sedangkan AirAsia meniupkan rencananya akan terbang ke Lombok menggunakan pesawat badan lebar ke dan dari Malaysia, sehingga bermaksud menunggu dibukanya BIL pertengahan tahun depan.

Sehubungan kebutuhan aksesibilitas udara ini, Wakil Gubernur Bali bersama Ketua DPR-D pernah berangkat ke Singapura dan Kuala Lumpur, mendekati pimpinan Silk Air dan AirAsia bahkan Malaysian Airlines.

Misbach Mulyadi, Direktur Eksikutif Badan Promosi Pariwisata Lombok Sumbawa di Mataram, menceritakan kunjungan itu menghasilkan pernyataan Silk Air akan menambah frekuensi ke Lombok, hanya tergantung kendala tekhnis di bandara yang saat ini masih dihadapi.

By the way, Badan Promosi Pariwisata tersebut telah berdiri sejak tahun 1999. Saat itu saya bertemu salah satu aktivisnya, Nyonya Rosa, yang ternyata hingga sekarang dia terus aktif. Badan itu mengesankan bekerja konsisten tiada henti, dibiayai oleh Pemda Propinsi NTB.

Maka badan ini pula aktif sebagai perpanjangan tangan Pemda menerima dan melaksanakan rencana event TIME – Tourism Indonesia Maret & Expo. TIME ini diambil alih penyelenggaraannya di Mataram untuk tahun 2009 dan 2010. Tahun lalu dilaksanakan di Makassar.

“Telah terdaftar 115 buyers, termasuk peserta dari Afrika Selatan dan Selandia Baru,” Misbach Mulyadi meyakinkan kita saat bertemu minggu lalu. Dia sendiri selaku steering committee TIME, menambahkan : “Khusus dari Malaysia, sekitar 40 tour operator dengan 10 media akan mengikuti.”

Tidak tanggung-tanggung pula, semua buyers dari mancanegara, sebagai peserta TIME, kata dia, dibiayai sepenuhnya oleh anggaran dari Pemda. Depbudpar sejak awal mendukung program ini.

Di Lombok sendiri, Diparda mendekati dan “membujuk” Dinas Perhubungan, untuk berupaya mendorong para maskapai penerbangan meningkatkan frekuensi dan pelayanan ke destinasi ini.

“Kami kan menjalankan fungsi high level coordination. Mendatangi Dinas Perhubungan misalnya. Selanjutnya untuk pelaksanaan kami serahkan pada instansi yang bersangkutan,” kata Lalu Gita, Kepala Diparda propinsi NTB.

Dia juga mencontohkan, bagaimana instansinya medekati Dinas Pendidikan dan meminta, agar kegiatan study tour sekolah lanjutan, atau KKN universitas yang ada di propinsi ini, hendaknya khusus tahun 2010 merencanakan sedari sekarang agar dilaksanakan di dalam daerah NTB saja. Jangan ke luar propinsi. Adapun Gubernur telah menyurati berbagai perguruan tinggi dengan isi anjuran yang sama, berharap program-program KKN – kuliah kerja nyata, agar diarahkan ke Lombok.

“Sekaligus mengampanyekan sapta pesona dan kenali negeri cintai negeri”, itulah alasannya.

Struktur dan Kultur

Praktek mengelola pariwisata di kawasan propinsi NTB seperti terurai di atas mencerminkan suatu struktur organisasi dengan ‘leadership’ yang tanpa keraguan. Policy making dan tanggungjawab dilaksanakan langsung oleh Gubernur. Strategi dan pelaksanaannya diumpan oleh Diparda. Dinas ini kemudian menalarkan koordinasi horizontal antar instansi, untuk mengkoordinasikan lintas sektor dan sinergi menggerakkan terlaksananya strategi menyeluruh.

Setidaknya organisasi yang terstruktur vertikal itu tampak kemudian didukung dengan kegiatan kordinasi horizontal.

Tetapi struktur tentu tidak cukup, sebagaimana dipahami, policy dan strategi akan bisa berjalan efektif tergantung pada “kultur” pelaksana yang mendukung. Ibarat di perusahaan, suatu organisasi akan berjalan efektif mencapai tujuan bila didukung dengan “budaya perusahaan” atau “budaya kerja” yang sesuai dengan karakter bisnisnya.

Di bidang pariwisata bukan hanya diperlukan budaya berpikir dan bekerja di lingkungan aparatur yang mendukung dan menalarkan policy, terlebih lagi di kalangan masyarakat yang memiliki “living culture”, yang justru merupakan asset ‘attractiveness’.

Gita mengungkapkan pula kegiatan yang hakekatnya mencerminkan strategi pendekatan budaya. Tahun 2009 digariskan sebagai periode proses konsolidasi. Diprogramkan, untuk mempromosikan secara internal sapta pesona. Tahun 2010, dibuatkan ‘design’ sedari sekarang, untuk melaksanakannya juga melalui khotbah-khotbah, dengan kegiatan safari Jum’atan menjalani jalur-jalur pariwisata.

Membangun pemahaman pariwisata dengan bahasa agama. Ini tentu merupakan bagian dari upaya membangun public acceptance terhadap pariwisata.

“Maklumlah, citra masa lalu pulau ini sering dilanda bentrokan-bentrokan antar masyarakat, perlu diperbaiki,” kata Lalu Gita terus terang.

Konsolidasi juga mengenai destinasi atau objek turis. Termasuk urusan kuliner khas Lombok seperti masakan ayam taliwang, budidaya mutiara dan mutiara sebagai souvenir khas kawasan ini. Semua dilaksanakan ke kabupaten dan kota. Dan ini dikonsepkan sebagai Grand Design membangun pariwisata menuju ke tahun 2012.

Di samping itu, menurut Mahdi Muhammad, mantan kepala bidang pemasaran dan kini membawahi bidang kebudayaan, sebenarnya sedang dalam proses adanya 6 sampai 10 investor yang akan membangun hotel baru di destinasi ini.

Wah, konsep mereka terdengar excellent! Sedang dirancang suatu event yang “gaya kebesarannya” akan mirip festival Rose Passadena di Amerika Serikat. Yaitu suatu Festival Lombok Bergendang, untuk diikuti kelompok-kelompok “gendang” dari seluruh Indonesia. Tentu saja akan menonjolkan keunikan “Gendang Beleq” milik Lombok. Kontes bergendang satu hari penuh itu akan tercatat di rekor MURI: siapa pegendang terkuat, karena begitu berhenti bergendang, langsung di-diskualifikasi. Kontes multi etnik nusantara itu, akan dihibur dengan parade, pagelaran, selain seminar.

Tujuan sesungguhnya dari konsep ini, ialah menuju pada penyelenggaraan satu event besar di tahun VLS 2012. Yaitu suatu event kontes internasional, mungkin maksudnya suatu International Ethnic Big Drums Contest ! Dan ini tentu bisa dimanfaatkan sebagai salah satu “eye catching performance” jika dikemas melalui gaya dan cara serta sasaran promosi yang tepat.

Ada satu lagi. Dirancang suatu event besar mungkin bertajuk “Reuni Ramadhan 2012”. Warga NTB yang berdomisili di luar daerah sampai luar negeri, diajak pulang di tahun VLS itu, bagi mereka akan disajikan suatu peristiwa “reuni” di kampung halaman. Format dan isi event sedang dirancang.

“Komunikasi akan menggunakan face book juga,” diterangkan oleh Lalu Gita yang hendak menunjukkan, bahwa berbagai media komunikasi akan diefektifkan.

Upaya dan praksis mengelola pariwisata di NTB ini jelas perlu didukung oleh stakeholders. Proses dan hasilnya tentu akan dikawal dan diukur oleh lembaga-lembaga yang berkepentingan. Jika back to basic, ukurannya akan terlihat sejauh mana membangun dan memadukan faktor-faktor 3-A, aksesibilitas, akomodasi, atraksi menjadi produk-produk yang layak jual.===